Mantan Bos PLN Sofyan Basir Hadapi Sidang Vonis Hari Ini

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus suap proyek PLTU Riau-1 Sofyan Basir melemparkan senyum sebelum membacakan nota pembelaannya di sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin, 21 Oktober 2019. Sofyan menyatakan penetapan tersangka terhadap dirinya terkesan dipaksakan dan dicari-cari kesalahannya dalam memfasilitasi pertemuan antara anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, politikus Partai Golkar Idrus Marham dan pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa kasus suap proyek PLTU Riau-1 Sofyan Basir melemparkan senyum sebelum membacakan nota pembelaannya di sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin, 21 Oktober 2019. Sofyan menyatakan penetapan tersangka terhadap dirinya terkesan dipaksakan dan dicari-cari kesalahannya dalam memfasilitasi pertemuan antara anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, politikus Partai Golkar Idrus Marham dan pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir akan menjalani sidang pembacaan vonis dalam kasus suap proyek PLTU Riau 1. Sidang akan berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 4 November 2019.

    "Agenda untuk putusan Senin, 04 November 2019," seperti dikutip dari jadwal sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

    Sebelumnya jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi menuntut Sofyan dihukum 5 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan kurungan.

    Menurut jaksa, Sofyan Basir terbukti membantu terjadinya suap dalam proyek pembangunan PLTU Riau-1. Mantan Dirut BRI ini memfasilitasi kesepakatan proyek hingga mengetahui adanya pemberian uang.

    Adapun transaksi suap tersebut berupa pemberian uang Rp 4,7 miliar kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dan mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham. Uang tersebut berasal dari pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo, selaku penggarap proyek.

    Menurut jaksa, Sofyan memfasilitasi pertemuan antara Eni, Idrus, dan Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited dengan jajaran direksi PT PLN. Hal itu untuk mempercepat proses kesepakatan proyek Independent Power Producer (IPP) PLTU Riau 1.

    Dalam pleidoinya, Sofyan menganggap penetapan tersangkanya terkesan dipaksakan. Ia juga merasa telah diadili oleh media massa. Sofyan menuding KPK terlalu bernafsu untuk menetapkan dirinya menjadi tersangka. "Terlihat sekali KPK terlalu bernafsu untuk men-tersangka-kan saya sehingga telah mengesampingkan catatan kinerja yang saya miliki selama 40 tahun," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.