Surya Paloh Bertemu PKS, Jokowi: Mungkin dengan Saya Ndak Kangen

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi keluarga keluar dari Istana Merdeka, Jakarta, untuk menuju Gedung Parlemen dalam rangka acara pelantikan presiden 2019-2024, 20 Oktober 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    Presiden Joko Widodo didampingi keluarga keluar dari Istana Merdeka, Jakarta, untuk menuju Gedung Parlemen dalam rangka acara pelantikan presiden 2019-2024, 20 Oktober 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menanggapi santai pertemuan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Iman. "Biasa saja. Partai ketemu partai biasa. Tokoh politik ketemu ya biasa. Biasa sekali. Enggak ada masalah," kata Jokowi dalam dialog bersama wartawan Istana Kepresidenan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 1 November 2019.

    Jokowi meminta agar pertemuan tersebut tidak disalahartikan bahwa koalisi pemerintahan tengah rapuh. NasDem merupakan salah satu partai pendukung Jokowi saat Pilpres 2019 dan bergabung mendukung pemerintah. Sedangkan PKS berkomitmen menjadi oposisi.

    Jokowi mengatakan, bisa saja pertemuan itu terjadi karena Surya Paloh sudah lama tidak berjumpa dengan Sohibul Iman. "Mungkin dengan saya ndak begitu kangen," katanya bergurau. "Biasa saja, enggak perlu dibawa ke perasaan. Untuk kebaikan bangsa kebaikan negara, ketema-ketemu menurut saya baik saja."

    Pertemuan Surya Paloh dan Sohibul Iman terjadi pada Rabu, 30 Oktober 2019. Saat itu, Surya Paloh sowan ke Kantor DPP PKS di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Hasil dari pertemuan satu jam ini adalah tiga nota kesepahaman.

    Pertama, kedua partai saling menghormati sikap konstitusional dan pilihan politik masing-masing. Partai NasDem menghormati sikap dan pilihan politik PKS untuk berjuang dari luar pemerintahan. Di saat yang sama, PKS juga menghormati sikap dan pilihan politik NasDem di dalam pemerintahan.

    Perbedaan sikap politik kedua Partai tidak menjadi penghalang bagi NasDem dan PKS untuk berjuang bersama-sama menjaga demokrasi agar tetap sehat dengan memperkuat fungsi check and balances di DPR RI.

    Demokrasi yang sehat itu penting, untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia baik di bidang politik, ekonomi, keagamaan, pendidikan, kesehatan, budaya, dan lainnya.

    Kedua, mereka sepakat menjaga kedaulatan NKRI dengan menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 dengan baik dan benar, keluhuran akhlak dan keteladanan para elit sebagai dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    Mereka juga tidak memberikan tempat kepada tindakan separatisme, komunisme, terorisme, radikalisme, intoleransi, dan lainnya yang bertentangan dengan empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Terakhir, kedua partai menyadari bahwa takdir sosiologis dan historis bangsa Indonesia adalah warisan sejarah kerja sama para pendiri bangsa antara kelompok nasionalis yang memuliakan nilai-nilai agama dengan kelompok Islam yang memegang teguh nilai-nilai kebangsaan.

    Oleh karena itu, bagi generasi penerus dari dua komponen bangsa tersebut harus mampu menjaga warisan sejarah pendiri bangsa ini dengan saling menghormati, saling memahami, dan saling bekerjasama, dalam rangka menjaga kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan Partai atau golongan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.