Majelis Rakyat Papua: Kenapa Jokowi Tak Tengok Pengungsi Nduga?

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana di Lapangan Bola Irai, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, Ahad, 27 Oktober 2019. Jokowi merupakan presiden pertama yang menginjakkan kakinya ke Kabupaten Pegunungan Arfak. Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana di Lapangan Bola Irai, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, Ahad, 27 Oktober 2019. Jokowi merupakan presiden pertama yang menginjakkan kakinya ke Kabupaten Pegunungan Arfak. Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Majelis Rakyat Papua Louis Maday, menyayangkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang tak menengok pengungsi dari 12 distrik Nduga di Wamena dan Timika.

    Padahal menurut Louis, para pengungsi yang sudah hampir satu tahun tak bisa pulang ke kampung halamannya di Nduga itu sangat mengharapkan kedatangan sosok Jokowi ke tempat pengungsian mereka.

    "Kenapa Presiden datang tapi tidak ketemu mereka? Sudah ke Wamena tidak mau ketemu pengungsi, sudah ke Timika juga tidak ketemu," ucap Louis di Jakarta, Rabu 30 Oktober 2019.

    Seperti diketahui, Presiden Jokowi baru saja mengunjungi Papua pada Senin, 28 Oktober 2019.

    Louis mengatakan, ketidakhadiran Jokowi membuat para pengungsi mempertanyakan apakah mereka benar-benar dianggap sebagai warga negara Indonesia lantaran tidak diperhatikan dan tak kunjung mendapatkan kepastian.

    "Apakah kami bukan bagian NKRI? Bukan warga negaranya? Itu menjadi pertanyaan mereka. Ini sudah 1 tahun, mereka ingin pulang dan membangun kampungnya. Militer seharusnya ditarik mundur," kata Louis.

    Hal ini, menurut Louis, dapat berdampak pada permasalahan yang tak kunjung usai. Ia mengatakan, akarnya adalah kekecewaan dan ketidakpercayaan pada pemerintah. Louis mengharapkan adanya dialog semua pihak tanpa operasi militer.

    "Papua harga mati, NKRI harga mati, apa mati sama-sama sampai semua pihak damai? Harusnya ada dialog seperti Aceh. Dengan pihak ketiga supaya bisa damai," kata dia.

    Konflik di Nduga, Papua terjadi sejak Desember 2018. Aparat TNI dan Polri melakukan operasi keamanan yang dipicu penyerangan terhadap pekerja proyek infrastruktur sehingga 31 pekerja tewas.

    Adapun korban kekerasan pasca-operasi keamanan di Kabupaten Nduga, Papua mencapai 182 orang sejak Desember 2018 hingga Juli 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.