Sakti Wahyu Trenggono, Raja Menara yang Jadi Wamen Prabowo

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sakti Wahyu Trenggono, Presiden Direktur Indonesian Tower. Tempo/Jati Mahatmaji

    Sakti Wahyu Trenggono, Presiden Direktur Indonesian Tower. Tempo/Jati Mahatmaji

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi melantik Sakti Wahyu Trenggono menjadi Wakil Menteri Pertahanan di Kabinet Indonesia Maju. Wahyu akan mendampingi Prabowo Subianto yang lebih dulu dilantik menjadi Menteri Pertahanan. Pelantikan para wakil menteri berlangsung di Istana Negara pada hari ini, Jumat, 25 Oktober 2019.

    "Saya ingin kenalkan para wakil menteri yang telah kami pilih, yang saya sudah satu-satu bertemu dengan beliau. Menurut saya profilnya sangat-sangat bagus dalam rangka memperkuat Kabinet Indonesia Maju," kata Jokowi, Jumat 25 Oktober 2019.

    Wahyu Trenggono adalah salah satu yang disebut Jokowi dalam pengumuman itu.

    Nama Wahyu Trenggono awalnya moncer sebagai pengusaha di bidang telekomunikasi. Dia bahkan dijuluki sebagai Raja Menara.

    Trenggono merupakan lulusan Manajemen Informatika Universitas Bina Nusantara. Trenggono menamatkan studi masternya di Teknik Industri Universitas Indonesia dan Manajemen Bisnis Institut Teknologi Bandung.

    Pria kelahiran Semarang, 3 November 1962 ini memulai bisnis penjualan perangkat telekomunikasi melalui perusahaan yang didirikannya dengan Abdul Satar dan Abdul Erwin, PT Solusindo Kreasi Pratama.

    Namun Trenggono kemudian beralih fokus ke bisnis penyewaan menara base transceiver dengan mendirikan PT Indonesian Tower. Usaha Trenggono mulai tampak bersinar sewaktu mereka melakukan penawaran saham perdana (IPO) ke publik delapan tahun kemudian.

    Nilai perusahaannya melejit menjadi US$ 1,5 miliar atau kurang-lebih Rp 18 triliun. Lalu, pada 2012, menurut dia seperti dikutip dari Majalah Tempo edisi 17 November 2014, valuasi usahanya berlipat jadi US$ 3 miliar, setelah ia mengambil alih 2.500 tower dari PT Indosat.

    Dikutip dari Majalah Tempo edisi 17 November 2014, lompatan prestasi di ladang bisnis itu terjadi seiring dengan meluasnya penjelajahan Trenggono di kancah politik. Pada Januari 2010, ia bergabung dengan Partai Amanat Nasional sebagai bendahara, pada saat Hatta Rajasa menakhodai partai biru berlambang matahari itu. Namanya pun mulai dikaitkan dengan Hatta, yang waktu itu juga menjabat Menteri Koordinator Perekonomian.

    Trenggono makin sering disebut dalam proyek berbasis tower yang ada di PT Telkom Tbk. Salah satu yang santer terdengar adalah rencana penjualan anak usaha Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), kepada PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. Bukan kebetulan, karena Tower Bersama kemudian menjadi induk dari perusahaan milik Trenggono, setelah keduanya melakukan merger pada 2010.

    Trenggono mulai tak aktif di PAN pada 2013. Namun, dia kemudian bergabung menjadi tim sukses pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla di pemilihan presiden 2014. Kabar ini sempat mengejutkan dan menjadi bahan gunjingan. Sebab, bukan hanya sebagai penggembira, peran Trenggono terhitung strategis di kubu yang jadi lawan PAN, partai tempat ia pernah menjabat sebagai bendahara.

    Dia banyak mengurus masalah logistik dan pendanaan dalam tim sukses. Bahkan, setelah Jokowi-Kalla terpilih, kiprah Trenggono masih berlanjut melalui posisinya di Tim Transisi. Di sana, ia kembali mendapat peran penting dengan memimpin satuan tugas khusus bersama putra Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, yakni Prananda Prabowo.

    "Tugas saya mengatur blusukan selama masa transisi: daerah mana saja yang harus dikunjungi dan apa masalahnya," kata Trenggono dikutip dari Majalah Tempo edisi 17 November 2014.

    Jauh sebelum berbisnis di bidang telekomunikasi, Trenggono adalah karyawan di Federal Motor, sekarang Astra Honda Motor. Selama enam tahun, dia membenahi sistem teknologi informasi, manufaktur, distribusi, dan strategi korporat. Di Astra, Trenggono merupakan teman seangkatan Rini Soemarno (kelak menjadi Menteri BUMN periode 2014-2019).

    Hubungan dengan Astra itu pula yang membantunya pada waktu ia memutuskan bergabung dengan PT Tower Bersama, yang salah satu pemiliknya adalah Edwin Soeryadjaya, putra pendiri PT Astra.

    Trenggono saat ini masih menjabat sebagai Komisaris Utama PT Solusindo Kreasi Pratama. Salah satu anak perusahaannya, PT Tower Bersama Infrastruktur merupakan penyedia infrastruktur menara telekomunikasi yang memiliki lebih dari 14.000 menara.

    Di perhelatan pemilihan presiden 2019, Sakti Wahyu Trenggono menjadi Bendahara Umum Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf Nama Trenggono awalnya juga disebut-sebut menjadi calon Menteri BUMN, posisi yang kini diisi Erick Thohir, mantan Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI | MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.