Protes Prabowo Menhan, Sumarsih: Semoga Pak Jokowi Tak Diculik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis HAM Sumarsih berorasi saat aksi Kamisan ke-600 di Jakarta, Kamis 5 September 2019. Dalam aksinya mereka menuntut segera diselenggarakannya pengadilan HAM di Indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Aktivis HAM Sumarsih berorasi saat aksi Kamisan ke-600 di Jakarta, Kamis 5 September 2019. Dalam aksinya mereka menuntut segera diselenggarakannya pengadilan HAM di Indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Maria Katarina Sumarsih, ibunda BR Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang tewas dalam Tragedi Semanggi I menyindir keputusan Presiden Joko Widodo memilih Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan. Ia berharap Jokowi tidak diculik Prabowo.

    "Pak Jokowi pun juga harus introspeksi mudah-mudahan Pak Jokowi tidak diculik," kata Sumarsih dalam acara Kamisan, di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2019.

    Menurut Sumarsih, nafsu berkuasa Prabowo sangat besar. Prabowo sudah berkali-kali maju dalam Pilpres namun selalu kalah. "Nafsu kuasa Prabowo sangat besar untuk menjadi presiden," kata dia.

    Sumarsih kecewa dengan keputusan Jokowi memilih Prabowo. Sebab, Prabowo semasa menjabat Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus diduga menjadi dalang penculikan aktivis prodemokrasi pada 1997-1998. Gara-gara tragedi ini Prabowo dipecat dari TNI.

    Menurut dia, perjalanan karier Prabowo mirip dengan mantan Menkopolhukam Wiranto. Wiranto, kata dia, sama-sama terduga pelanggar HAM, namun kemudian diberikan jabatan dalam pemerintahan Jokowi Jilid I.

    Dengan masuknya Prabowo ke kabinet Jokowi Jilid II, ia khawatir tren impunitas bakal berlanjut. "Jangan jadikan Nawacita jadi duka cita, terutama untuk rakyat yang memilih Pak Jokowi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.