Tak Dapat Jatah Kabinet, PAN Tetap Dukung Jokowi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Ahad, 20 Oktober 2019. Zulkifli mengaku sudah bicara dengan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais terkait sikap partainya apakah akan bergabung ke koalisi Jokowi atau di luar pemerintahan. TEMPO/Putri.

    Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Ahad, 20 Oktober 2019. Zulkifli mengaku sudah bicara dengan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais terkait sikap partainya apakah akan bergabung ke koalisi Jokowi atau di luar pemerintahan. TEMPO/Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Amanat Nasional atau PAN Zulkifli Hasan menyatakan bahwa partainya tetap akan mendukung pemerintahan Jokowi, kendati tidak mendapat tempat di kabinet.

    "Kami akan mendukung pemerintah dan doakan tetap jadi mitra yang kritis," ujar Zulkifli Hasan usai menghadiri pelantikan menteri di Istana Negara, Jakarta pada Rabu, 23 Oktober 2019.

    Zulkifli mengatakan, PAN mendukung pemerintah tanpa syarat, dengan atau tanpa jatah menteri. "Saya selalu mengatakan kami tidak minta apa-apa. Kami akan dukung dan doakan Pak Jokowi sukses," ujar dia.

    Pernyataan petinggi PAN ini persis dengan Partai Demokrat. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief menyebut partainya tetap akan mendukung pemerintahan Jokowi - Ma'ruf, kendati tidak ada satu pun kadernya yang masuk Kabinet Indonesia Maju.

    "Demokrat tetap mendukung pemerintahan," ujar Andi lewat pesan singkat kepada Tempo, Rabu, 23 Oktober 2019.

    Dengan pernyataan petinggi PAN dan Demokrat ini, maka Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah satu-satunya partai yang menjadi oposisi. Adapun Gerindra, sudah resmi bergabung dengan koalisi pemerintah dan mendapat jatah dua menteri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.