Puting Beliung di Kota Batu, Khofifah Minta Fasilitas Diperbaiki

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengungsi di Posko BPBD Kota Batu dipindahkan ke Balai Desa Tulungrejo di Kecamatan Bumiaji dan Balai Desa Sidomulyo di Kecamatan Batu pada Senin sore, mulai sekitar pukul 17.00 WIB. Ada pengungsi yang digendong karena manula dan ada juga pengungsi yang tunanetra. TEMPO/Abdi Purmono

    Para pengungsi di Posko BPBD Kota Batu dipindahkan ke Balai Desa Tulungrejo di Kecamatan Bumiaji dan Balai Desa Sidomulyo di Kecamatan Batu pada Senin sore, mulai sekitar pukul 17.00 WIB. Ada pengungsi yang digendong karena manula dan ada juga pengungsi yang tunanetra. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi tempat-tempat pengungsian korban bencana angin puting beliung di Kota Batu pada Senin, 21 Oktober 2019. 

    Khofifah juga melayat ke rumah penduduk yang tewas dalam bencana tersebut di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Dia juga memberikan bantuan untuk keluarga korban meninggal, korban luka-luka, serta para pengungsi. 

    Mantan Menteri Sosial itu mengatakan, kunjungannya ke Batu untuk mengetahui langsung kondisi kerusakan di lapangan, sekaligus memberikan semangat kepada para korban. Dia juga menyampaikan dua hal yang harus diprioritaskan setelah bencana, yakni perbaikan segera fasilitas umum.

    “Saya lihat sendiri pelayanan kepada semua pengungsi sudah cukup maksimal. Namun perlu diperhatikan langkah strategis untuk pemulihan situasi setelah bencana. Tadi sudah saya sampaikan kepada Ibu Wali Kota,” kata Khofifah kepada wartawan seusai mengunjungi pengungsi di Balai Desa Punten, Kecamatan Bumiaji. 

    Langkah strategis yang dimaksud Khofifah ialah memprioritaskan perbaikan tiga infrastruktur dasar, yaitu pendidikan, kesehatan, dan layanan ibadah.

    Saat berdialog dengan sejumlah pengungsi, Khofifah menasihati anak usia sekolah untuk bersabar selama seminggu karena tak bisa sekolah. Dia berjanji mengusahakan mendirikan sekolah darurat pekan depan agar semua anak bisa kembali bersekolah jika sekolahnya belum bisa segera diperbaiki atau memang harus diperbaiki dari nol. 

    Terjangan angin kencang pada Sabtu malam, 19 Oktober 2019, mulai sekitar pukul 23.00 WIB hingga Ahad siang, 20 Oktober 2019, telah memorak-porandakan puluhan rumah, sekolah, tempat ibadah, jaringan listrik, mengganggu jaringan komunikasi, dan menutup arus lalu lintas yang terhalang pohon-pohon tumbang. Hingga hari ini listrik masih padam dan jaringan komunikasi masih sangat lelet.   

     Berdasarkan data di Pusat Pengendalian dan Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Batu, hingga pukul 19.00 WIB, terdata jumlah pengungsi berkurang dari 1.216 jiwa jadi 891 jiwa. Mereka berasal dari tiga desa di Kecamatan Bumiaji (Sumber Brantas, Gunungsari, dan Sumbergondo) dan ditampung di tujuh pos pengungsian. Jumlah korban jiwa masih satu orang. 

    “Jumlahnya berkurang karena banyak pengungsi yang dijemput keluarga maupun kerabatnya. Namun kami ingatkan untuk sementara tidak kembali ke kampungnya karena kondisi cuaca belum sepenuhnya kondusif,” kata Sekretaris BPBD Kota Batu Agung Sedayu kepada Tempo


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.