Cerita Dosen UGM Soal Kebiasaan Jokowi Ngelaju Yogya-Solo

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Dosen pembimbing Joko Widodo atau Jokowi saat kuliah di Universitas Gadjah Mada Kasmudjo mengisahkan tentang kebiasaan Jokowi ngelaju alias pulang pergi Yogya-Solo.

    “Saya ingat ia dulu sering nglaju Solo-Yogya pas longgar, hanya untuk membantu usaha mebel keluarganya. Saya beberapa kali juga kerap dimintai bantuan ketika ia mengalami kesulitan,” kata Kasmudjo, Ahad, 20 Oktober 2019.

    Kasmudjo menjadi dosen pembimbing akademik Jokowi periode 1980-1985. Menurutnya, Jokowi adalah tipe mahasiswa yang disiplin dan teliti. Meskipun ia menyebut rata-rata mahasiswa pada zaman itu juga seperti itu. Nilai IPK nya pun tergolong biasa. Pernah mendapatkan IPK 2,65. Namun naik menjadi 3,2. Kasmudjo menuturkan dirinya merupakan dosen yang membimbing dan membina di bidang meubel kerajinan.

    “Dia sangat rajin, sosok Jokowi yang saya kenal dulu ya seperti itu. Walau memang seperti yang dibilangnya di media-media bahwa saya dulu galak," kata dia.

    Cerita Kasmudjo berlanjut ketika Jokowi sudah menjadi pejabat, baik wali kota, gubernur, maupun presiden. Semasa itu, ia menyatakan beberapa kali bertemu dengan Jokowi. Tepatnya dua kali semasa menjabat wali kota, dua kali semasa gubernur DKI Jakarta dan tiga kali semasa menjadi presiden.

    “Kebanyakan dari pertemuan-pertemuan tersebut biasanya saya diundang. Seperti pernah ketika datang ke UGM, ia meminta untuk ditemani saya. Selain itu, dua kali saya ingat menghadiri pernikahan anaknya,” kata Kasmudjo.

    Kebiasaan Jokowi mengajak kumpul kawan-kawan lamanya juga diceritakan Andriana, teman satu angkatan di UGM.

    “Saya ingat dulu waktu masih bekerja di PT Kertas Kraft Aceh, ia pernah meminta saya untuk mengumpulkan kawan-kawan seangkatan. Katanya mau bernostalgia begitu. Terakhir, kami diundang ke istana beberapa waktu yang lalu,” kata dosen Fakultas Kehutanan UGM ini.

    Menurut Ana, panggilan Andriana kebiasaan Jokowi tersebut mungkin terbentuk sejak mahasiswa dulu. Di Fakultas Kehutanan, mereka biasa bersama-sama di hutan untuk kuliah lapangan.

    “Hal itu membentuk ikatan di antara kami. Mungkin itu juga yang dirasakan Jokowi,” kata dia.

    Satu hal yang paling berkesan bagi Ana dari sosok Jokowi adalah walaupun suka bergaul tapi dirinya tidak terbawa pengaruh buruk teman-teman sejawatnya.

    “Angkatan kami berjumlah 80 dan wanitanya hanya empat. Parkiran biasanya adalah tempat kumpul para laki-laki. Biasanya mereka menggodai kami para wanita jika melewatinya. Namun, saya ingat betul Jokowi bukan salah satu dari mereka,“ kata Ana.

    Ana berharap, rekan kuliahnya di UGM itu mampu menjalankan program di periode kedua dengan sukses.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.