Kepala BIN Diusulkan Dijabat Sipil, Ini Alasannya...

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono (kiri) diterima Ketua DPR RI Bambang Soesatyo di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat, 31 Mei 2019. Pertemuan tersebut antara lain membahas rencana Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI. (istimewa)

    Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono (kiri) diterima Ketua DPR RI Bambang Soesatyo di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat, 31 Mei 2019. Pertemuan tersebut antara lain membahas rencana Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI. (istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyerangan terhadap Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto merupakan bukti yang kesekian kali kegagalan Badan Intelijen Negara (BIN).

    Sebab itu, tokoh-tokoh dari Aceh hingga Papua menginginkan BIN kembali dipimpin oleh sipil sebagaimana pada era Bung Karno saat BIN dipimpin Dr Soebandrio (1959-1965), atau belum lama ini saat Assad Ali menjadi Wakil Kepala BIN.

    Bukti gegagalan sebelumnya adalah rusuh Papua, serta aksi demonstrasi massa yang berujung kerusuhan pada 21 Mei dan 22-23 September 2019 di Jakarta.

    "Sudah saatnya Kepala BIN dari sipil," ujar Ketua Umum Pemuda Adat Papua, Timotius D Telimolo dalam rilisnya.

    Ia bahkan mengaku sudah berkirim surat kepada Presiden Joko Widodo terkait dukungannya agar Jokowi memilih figur sipil, yakni Suhendra Hadikuntono, untuk memimpin BIN.

    "Saya yakin Pak Jokowi sepakat dengan supremasi sipil. Jangan semua lembaga dipimpin oleh figur polisi atau tentara,' cetusnya.

    "Kami bersama rakyat Aceh mendoakan Pak Suhendra ditunjuk oleh Presiden terpilih untuk memimpin institusi BIN. Sudah waktunya sipil memimpin BIN," ujar Wali Nanggroe Aceh Darussalam Tengku Malik Mahmud,
    WaA
    Timotius menegaskan agar BIN dipimpin oleh sipil. "Selama BIN dipimpin oleh tentara atau polisi, Papua tetap bergejolak. Kini saatnya sipil memimpin BIN," tegasnya.

    Sipil, kata Timotius, tentu punya pola pikir yang berbeda, sehingga dalam operasi intelijen akan lebih humanis, serta mengedepankan prosperity approach (pendekatan kesejahteraan) daripada security approach (pendekatan keamanan) yang selama ini terbukti gagal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.