Isu Prabowo Jadi Menhan, Ryamizard: Dia Tujuannya Presiden Kan?

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gestur Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu (tengah) saat hadir pada Silaturahmi Purnawirawan TNI di Gedung Jenderal A.H Nasution, Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin, 29 Juli 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Gestur Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu (tengah) saat hadir pada Silaturahmi Purnawirawan TNI di Gedung Jenderal A.H Nasution, Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin, 29 Juli 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menanggapi santai isu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan menggantikannya. Menurut Ryamizard, siapa saja bisa menjabat sebagai MenterI Pertahanan. "Ya siapa saja boleh kok. Saya enggak pernah nargetin orangnya," kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 18 Oktober 2019.

    Saat ditanya apakah sosok Prabowo cocok menjabat Menteri Pertahanan, Ryamizard menjawab, "Enggak tahu. Dia kan tujuannya jadi presiden, kan?"

    Menurut Ryamizard, sosok Menteri Pertahanan di periode kedua pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi harus bisa mengubah situasi bangsa menjadi lebih baik. "Bangsa ini situasinya kurang baik, harus diubah menjadi baik," kata dia.

    Belakangan santer isu bahwa Gerindra dan Prabowo mengincar kursi Menteri Pertahanan di kabinet Jokowi-Ma'ruf. Sumber Tempo menyebut, mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu belakangan memang lebih banyak bicara soal isu stabilitas dan pertahanan ketimbang soal ekonomi dan investasi.

    Salah satu isu pertahanan yang menarik perhatian Prabowo belakangan ini adalah konflik di Papua. Hal ini juga sempat dibicarakan Prabowo bersama Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh saat keduanya bertemu pada Ahad malam lalu, 13 Oktober 2019.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.