Polri Imbau Tak Unjuk Rasa Hingga Pelantikan Presiden Usai

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kasubdit III Ditresnarkoba AKBP Muhammad Iqbal (tengah) dan Kasubdit Penmas Polda Metro Jaya AKBP I Gede Nyeneng (kanan) menunjukkan sejumlah barang bukti saat rilis kasus dugaan penyalahgunaan narkoba di Gedung Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Jakarta, Ahad, 29 September 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Kasubdit III Ditresnarkoba AKBP Muhammad Iqbal (tengah) dan Kasubdit Penmas Polda Metro Jaya AKBP I Gede Nyeneng (kanan) menunjukkan sejumlah barang bukti saat rilis kasus dugaan penyalahgunaan narkoba di Gedung Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Jakarta, Ahad, 29 September 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Polri mengimbau masyarakat agar tidak berdemostrasi atau unjuk rasa dalam waktu dalam sepekan ini, khususnya saat pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20 Oktober 2019. "Polri mengamankan, hak diskresi kepolisiannya demo untuk kepentingan yang lebih besar," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Mohammad Iqbal di Hotel Cosmo Amarossa, Jakarta Selatan pada Rabu, 16 Oktober 2019. 

    Iqbal membeberkan alasan mengapa kepolisian sementara waktu melarang demostrasi. Salah satunya adalah kekhawatiran ruang demonstrasi yang malah dimanfaatkan oknum pelaku kericuhan. Ia mencontohkan salah satunya aksi di area Gedung DPR/MPR pada 30 September 2019.  "Apa itu aspirasi menyampaikan pendapat di muka umum? Perusakan, pelemparan, pembakaran.”

    Ia mengaku tidak menunjuk siapapun, tapi menurut dia, pelakunya bukan mahasiswa. Tapi perusuh yang mendompleng. “Nah itu kami antisipasi," ujar Iqbal. 

    Selain itu, kata Iqbal, Polri juga melihat dari pengalaman aksi sebelumnya yang kerap berujung ricuh. Sehingga, kepolisian mengeluarkan diskresi untuk melarang setiap kegiatan demonstrasi hingga pelantikan presiden terpilih selesai. 

    "Kalau ada kelompok masyarakat menyampaikan pendapat, artinya mereka pelaksanaan anarkis, akan kami bubarkan. Itu bukan brutal, tapi melanggar pidana." Ia berharap masyarakat dapat saling mendukung terciptanya keamanan dan ketertiban selama pelantikan presiden terpilih berlangsung. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.