400 Indonesianis Generasi 4 Berkumpul di Yogyakarta

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wamenlu RI, DR. AM Fachir mengunjungi pengungsi Rohingya di Camp Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh. foto : Infomed Kementerian Luar Negeri

    Wamenlu RI, DR. AM Fachir mengunjungi pengungsi Rohingya di Camp Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh. foto : Infomed Kementerian Luar Negeri

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Kongres Indonesianis Sedunia atau  The World Indonesianist Congress digelar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 14-15 Oktober 2019. Hadir 400 peserta dari 43 negara. 

    Para Indonesianis peserta kongres mempelajari berbagai aspek ilmu dan pengetahuan di Indonesia. Mereka dari kalangan akademisi, peneliti, dan pelajar dari negara asing.

    Kongres perdana tersebut mengambil topik bahasan "Building a Better Future of Indonesia: Toward a Tolerant, Vibrant and Creative Society."

    “Ini sebagai upaya kita memberdayakan para Indonesianis. Supaya mereka ikut kontribusi untuk masa depan Indonesia,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mochammad Fachir atau AM Fachir dalam pembukaan kongres pada Senin malam lalu, 14 Oktober 2019. "Indonesianis itu memiliki minat dan kecintaan kepada Indonesia."

    Para Indonesianis tersebut antara lain datang dari Amerika Serikat, Australia, Gambia, Jerman, Myanmar, Rusia, Cina, Timor Leste, dan Yordania.

    Terdapat tiga bidang yang membutuhkan kontribusi Indonesianis, yakni memperkuat identitas Indonesia sebagai bangsa multikultural, memperkuat human capital, dan transformasi ekonomi.

    “Sebagai Indonesianis, anda juga memiliki peran penting untuk berkontribusi bagi masa depan Indonesia,” ujar AM Fachir.

    Dia menceritakan mulai 1945 generasi Indonesianis pertama menjelajahi Indonesia pascakolonial. Generasi Indonesianis kedua masih fokus pada tema bangunan. Generasi Indonesianis ketiga lebih fokus mereformasi Indonesia (Orde Reformasi).

    “Generasi keempat, yang sekarang masih mencari bentuknya. Sekarang giliran anda," tutur AM Fachir.

    Adapun Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Negeri Yogyakarta Pr Margana menyampaikan hahwa pada abad ke-21 terdapat sejumlah keahlian yang perlu dikuasai, antara lain kreativitas dan inovasi, creative thinking dan problem solving, serta komunikasi dan kolaborasi.

    “Semoga kongres dapat bermanfaat dan menyenangkan,” kata Margana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.