Cerita Korban Kerusuhan Wamena, Disandera dan Dilepaskan Bak Film

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah polisi berpatroli keliling Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Sabtu, 12 September 2019. Polisi tampak membawa senjata laras panjang dan bendera Merah Putih saat melakukan patroli dengan berjalan kaki. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Sejumlah polisi berpatroli keliling Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Sabtu, 12 September 2019. Polisi tampak membawa senjata laras panjang dan bendera Merah Putih saat melakukan patroli dengan berjalan kaki. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan warga pendatang sempat disandera oleh massa yang berunjuk rasa di Wamena, Papua dalam kerusuhan pada 23 September 2019. Salah satu orang yang disandera, Dwi Josanyoto, 40 tahun, bercerita dia dan warga pendatang lain dibawa ke gereja di kawasan Homhom ketika massa mulai membakar ratusan ruko di Jalan Pikhe, salah satu jalan yang ramai di Wamena.

    Ratusan warga masih tersekap di tiga gereja hingga menjelang petang. Diliputi kengerian, Dwi Josanyoto menunggu polisi membebaskannya. Saat itulah teleponnya berdering.

    "Kamu mau lapor siapa?" demikian Dwi Josanyoto menirukan seorang pemuda yang membentaknya, dikutip dari Majalah Tempo edisi 7 Oktober 2019.

    Telepon seluler milik para sandera kemudian dikumpulkan. Yohanes Leri, pemuda asal Manggarai, mendengar seseorang berucap, "Karena anak-anak belum bebas, kalian juga belum bisa bebas." Yang lain mengeluarkan ancaman, "Kalau sampai jam enam pelajar itu tidak dilepas, ya, lihat saja."

    Yang dimaksud adalah tujuh pelajar yang ditahan Kepolisian Resor Jayawijaya dalam aksi unjuk rasa dan kerusuhan pada hari itu, Senin, 23 September. Tujuh orang itu ditangkap lantaran kedapatan membawa senjata.

    Ketika hari mulai gelap, polisi dan massa berhadap-hadapan. Mereka dipisahkan jembatan kecil di dekat Gereja Kristen Injili di Homhom. Tembakan meletus berkali-kali. Negosiasi pembebasan sandera pun dimulai.

    Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua Theo Hasegem bersama seorang pendeta dan perwakilan pemuda menghampiri massa yang masih bersiaga. Kepada Theo, massa menyampaikan tuntutannya. "Bapa, kami punya teman tujuh orang ditahan di Polres. Kembalikan dulu, baru kami lepas yang 500 ini."

    Theo meneruskan pesan itu kepada Kepala Kepolisian Resor Jayawijaya Ajun Komisaris Suheriadi. "Kalau tujuh orang ini ditahan terus, para sandera itu bisa mendapat dampak buruk," kata Theo.

    Suheriadi awalnya menolak permintaan massa. "Tak semudah itu membebaskan pelaku kerusuhan." Namun belakangan ia melunak. Suheriadi bersedia membebaskan sandera asalkan ada jaminan semua warga pendatang yang ditawan dilepaskan.

    Pertukaran sandera dengan tahanan di jembatan Homhom, Wamena itu seperti adegan dalam film Bridge of Spies, saat Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan Badan Intelijen Uni Soviet (KGB) bertukar tahanan di Checkpoint Charlie, titik untuk menyeberangi Tembok Berlin.

    Di tengah jalan, Dwi Josanyoto sempat berpapasan dengan pelajar yang ditangkap polisi. Setelah melewati jembatan, kakinya lemas. Ia tak menyangka bisa kembali dengan selamat. Saat keluar dari gereja, sebagian warga pendatang masih sempat bersalam-salaman dengan massa.

    Kapolres Suheriadi berteriak gusar," Buruan, Lebaran masih lama!"

    BUDIARTI UTAMI PUTRI | I WAYAN AGUS PURNOMO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.