Kapolda Papua: Penikaman di Wouma Masih Terkait Kerusuhan Wamena

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw (kiri), mengikuti Upacara korps kenaikan pangkat di  Mabes Polri,Jakarta, 3 September 2015. Pangkat Kapolda Papua Paulus Waterpauw dinaikkan dari Brigjen menjadi Irjen. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Kapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw (kiri), mengikuti Upacara korps kenaikan pangkat di Mabes Polri,Jakarta, 3 September 2015. Pangkat Kapolda Papua Paulus Waterpauw dinaikkan dari Brigjen menjadi Irjen. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpau mengatakan, penikaman yang berujung kematian di sekitar Jembatan Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Papua, masih berkaitan dengan kerusuhan 23 September.

    Paulus mengatakan, penikaman itu akan menjadi bahan evaluasi bagi Polri dan TNI.

    "Kejadian itu pasti ada hubungan, dan tentu untuk membuktikan pelaku harus kita tangkap. Mengapa aparat ada di Jayawijaya dan di lokasi itu ada kekosongan. Itu koreksi kami," ujarnya.

    Sebelumnya seorang tewas ditikam pada bagian perutnya pada Sabtu, 12 Oktober 2019. 

    "Betul, satu orang meninggal dunia," kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto melalui pesan teks, Sabtu, 12 Oktober 2019.

    Paulus berjanji memperkuat pengawasan, pendirian pos serta patroli skala besar pascainsiden itu. Oleh sebab itu, diimbau agar tidak ada lagi warga yang membawa senjata tajam masuk ke pusat kota Jayawijaya.

    "Kita akan lakukan untuk memastikan persoalan ini (yang berkaitan dengan kejadian 23/9) sudah selesai. Saya harap warga tidak membawa senjata tajam. Stop, daripada saudara kecewa," ucapnya, menegaskan.

    Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab mengatakan kesepakatan TNI/Polri dan Pemkab Jayawijaya bahwa tidak ada lagi tindakan preventif bagi pengganggu kamtibmas.

    "Kalau ada kejadian yang akan kita hadapi, kita akan represif supaya situasi ini semakin kondusif ke depan," tegasnya.

    Herman mengatakan kasus penikaman yang terjadi di sekitar Wouma merupakan usaha dari beberapa orang untuk mengganggu kamtibmas yang sudah kondusif pascakerusuhan Wamena.

    "Oleh sebab itu tindakan kami yang pertama, kami sudah komitmen bahwa tegas," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.