Gelar Diskusi Soal Papua, Pers Mahasiswa Dibredel

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ikatan Mahasiswa Papua mengadakan aksi membagikan bunga kepada masyarakat di Kawasan Patung Arjuna Wijaya, Jakarta, Kamis, 19 September 2019.Aksi ini dalam rangka menjaga persatuan rakyat Indonesia dengan mengangkat tema : `Sa Papua Sa Indonesia`. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Ikatan Mahasiswa Papua mengadakan aksi membagikan bunga kepada masyarakat di Kawasan Patung Arjuna Wijaya, Jakarta, Kamis, 19 September 2019.Aksi ini dalam rangka menjaga persatuan rakyat Indonesia dengan mengangkat tema : `Sa Papua Sa Indonesia`. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Surabaya - Rizky Pratama, Pimpinan Umum pers mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (Pens), Teropong, mengatakan segala kegiatan menyangkut media cetak dan online tersebut dilarang oleh pihak kampus sejak Rabu malam, 9 Oktober 2019. Pembredelan Teropong berkaitan dengan rencana diskusi bertema Framing Media & Hoaks: Papua dalam Perspektif Media Arus Utama yang dibubarkan oleh polisi dan pihak kampus.

    "Kalau mau terbit lagi, kampus minta Teropong menghilangkan identitas Pens di nama lembaga setiap penerbitan kami," kata Rizky saat dihubungi, Sabtu, 12 Oktober 2019.

    Rizky menyesalkan sikap kampus yang ikut memberangus pers mahasiswa. Ia juga heran kampus justru membela polisi ketimbang mahasiswanya sendiri. "Saya langsung dicopot sebagai pimpinan umum Teropong oleh kampus," ucap Rizky.

    Pembubaran diskusi oleh Polsek Sukolilo Surabaya dengan dalih tak berkoordinasi lebih dulu pada aparat, juga dinilai tak beralasan. Sebab, tiap pekan Teropong rutin mengadakan diskusi dan tak pernah izin polisi karena kegiatan itu untuk internal kampus.

    Rizky menduga pembubaran itu karena tema diskusi yang diambil sedang sensitif. Namun, kata dia, saat berdialog, polisi tak mengatakan alasannya. Mereka cuma melarang diskusi yang belum sempat dimulai itu dilanjutkan. "Polisi hanya bilang alasan melarang diskusi karena kami tak koordinasi," katanya.

    Pihak Pens belum dapat dimintai tanggapan ihwal masalah ini. Pesan yang dikirim Tempo kepada Kepala Hubungan Masyarakat Pens, Andri, tidak direspons kendati ada tanda sudah dibaca.

    Ketua Aliansi Jurnalis Independen Surabaya Miftah Farid mengecam pembredelan pers mahasiswa oleh kampusnya sendiri. Menurutnya, sikap tersebut memberangus daya kritis mahasiswa. "Ini preseden buruk dunia mahasiswa di era keterbukaan seperti saat ini," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.