Wiranto Ditusuk, Komandan Paspampres Bicara Pengamanan Jokowi

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) melakukan demonstrasi pengamanan VVIP saat apel gelar pasukan Satgas Pengamanan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Tahun 2019 di Mako Paspampres, Jakarta, Selasa , 14 Mei 2019. Gelar pasukan tersebut dalam rangka mempersiapkan pasukan dalam rangka pengamanan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019. ANTARA

    Personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) melakukan demonstrasi pengamanan VVIP saat apel gelar pasukan Satgas Pengamanan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Tahun 2019 di Mako Paspampres, Jakarta, Selasa , 14 Mei 2019. Gelar pasukan tersebut dalam rangka mempersiapkan pasukan dalam rangka pengamanan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Mayor Jenderal Maruli Simanjuntak mengatakan pengamanan untuk Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak ditingkatkan meski terjadi penusukan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto. Maruli menjelaskan pengamanan untuk presiden selalu maksimal setiap saat.

    "Tak perlu. Kami, kan, standar sudah high risk," katanya saat dihubungi, Kamis, 10 Oktober 2019.

    Selain itu, ia menilai penambahan pasukan untuk pengamanan presiden belum diperlukan. "Tidak ada. Kami sudah siaga dan mudah-mudahan tidak terjadi (hal buruk)," ujar Maruli.

    Terkait kebiasaan Jokowi menyapa masyarakat saat kunjungan kerja, Maruli mengatakan pihaknya sudah melakukan antisipasi. "Kami sudah hitung semua, ada SOP-nya. Ya, kalau kami saat dropping harusnya sudah clear," tuturnya.

    Sebelumnya, Wiranto ditusuk seseorang setelah mengunjungi Pondok Pesantren Mathla'ul Anwar, Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. Saat ini Wiranto sedang dirawat di RSPAD Gatot Soebroto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.