Demokrat Benarkan Rencana Pertemuan SBY dan Jokowi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) tiba di rumah duka almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie untuk melayat di kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Kamis, 12 September 2019. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) tiba di rumah duka almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie untuk melayat di kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Kamis, 12 September 2019. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahean membenarkan adanya rencana pertemuan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada hari ini, Kamis, 10 Oktober 2019.

    "Iya rencana itu betul, cuma aku belum lengkap infonya tentang apa yang akan dibahas. Baru membenarkan pertemuan tersebut," ujar Ferdinand saat dihubungi Tempo pada Kamis, 10 Oktober 2019.

    Ferdinand juga belum memberi informasi ihwal di mana pertemuan tersebut akan dilangsungkan. "Saya sedang cek ke ajudan. Saya belum bisa bicara banyak, konfirmasi ke istana saja," ujar dia.

    Jokowi bakal dilantik pada 20 Oktober 2019. Hingga saat ini, ia belum mengungkapkan postur kabinet kerja jilid II.

    Adapun hingga saat ini Demokrat belum menegaskan akan merapat ke Jokowi atau menjadi oposisi.

    Kendati demikian, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief menyebut pidato kontemplasi SBY pada awal September lalu sudah menegaskan bahwa partainya akan mendukung pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi tanpa syarat.

    "Lewat pidato kontemplasi (SBY), sikap Demokrat jelas, akan mendukung pemerintahan tanpa syarat apapun, termasuk menteri," ujar Andi Arief saat dihubungi Tempo pada Kamis, 10 Oktober 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.