Teknologi Nanoe Panasonic untuk Kualitas Udara Lebih Bersih

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PT Panasonic Gobel Indonesia menggelar acara “Panasonic Launch Quality Air for Life & Integration of Air Solution in Indonesia

    PT Panasonic Gobel Indonesia menggelar acara “Panasonic Launch Quality Air for Life & Integration of Air Solution in Indonesia" di Jakarta pada Rabu, 9 Oktober 2019.

    INFO NASIONAL — Panasonic menggiatkan penggunaan teknologi Nanoe dalam produknya demi peningkatan kualitas udara. Teknologi ini ditanamkan ke berbagai jenis pendingin ruangan untuk rumah, perkantoran, dan komersil. Dikembangkan sejak 18 tahun lalu, Nanoe menjadi satu solusi terhadap peningkatan pencemaran udara. 

    Teknologi Nanoe merupakan satu dari tiga elemen kunci yang dapat mengingkatkan kualitas udara. Dua lainnya adalah penyejuk udara dan ventilasi. Warga asing pada umumnya memandang polusi dan kemacetan sebaai masalah utama Jakarta. "Kebanyakan orang akhirnya memilih tinggal di dalam ruangan lebih lama, tapi apakah kondisi udara di ruangan itu terjamin bersih?" ujar Air Conditioner Business Deputy Director PT Panasonic Gobel Indonesia, Hideki Kitazawa 

    Kitazawa berbicara dalam acara pengenalan produk Panasonic dengan tema "Quality Air for Life & Integration of Air Solution in Indonesia" di Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.

    Apalagi tingkat polusi di ibu kota dalam kategori sangat mengkhawatirkan. Pada pekan pertama Oktober, AirVisual.com menempatkan Jakarta di peringkat empat dunia setelah Dhaka, Hanoi, dan Delhi. Udara Jakarta secara keseluruhan mengandung polutan PM 2.5 dengan kepadatan 63,1 µg/m³.

    Untuk itu, Panasonic menawarkan solusi dengan sejumlah produk berteknologi Nanoe yang dapat meningkatkan kualitas udara yang bersih. Nanoe adalah partikel air elektrostatis berukuran nano yang teratomisasi. Teknologi yang telah dipatenkan Panasonic ini, membuat molekul air di udara menghasilkan  ion-ion yang terbungkus dalam air. Di dalam ion-ion ini terdapat banyak radikal OH yang sangat reaktif, bekerja untuk menghambat zat-zat berbahaya di udara. 

    Teknologi Nanoe memiliki tiga keunggulan. Pertama, menghambat bakteri dan virus. Karena berukuran nanometer, Nanoe dapat masuk ke dalam serat pakaian dan menonaktifkan bakteri, virus, serta partikel penyumbang alergi (serbuk sari, kotoran kutu, dan lainnya).

    Kedua, Nanoe dapat menghilangkan bau. Prinsip kerjanya, Nanoe menembus ke dalam serat pakaian, karpet, gorden, dan benda lainnya. Nanoe bekerja untuk meminimalkan bau. Terakhir, Nanoe mampu melembapkan tubuh karena Nanoe masih mengandung air sehingga membantu mempertahkan kelembapan kulit atau rambut.

    Panasonic juga mengembangkan teknologi terbaru yang disebut Nanoe-G. Cara kerjanya dengan melepas ion aktif yang melekat pada partikel sekecil PM 2.5. Teknologi Nanoe-G diklaim dapat menghilangkan 99 persen partikel udara berukuran PM2. Bahkan bakteri, jamur, dan virus yang dapat menyebabkan seseorang influenza, pun bisa hilang.

    Untuk diketahui, PM2.5 adalah partikel udara yang sangat halus dengan diameter 2,5 μm atau lebih kecil, yang mudah masuk ke dalam organ pernapasan manusia dan menyebabkan masalah kesehatan. Ukurannya, sekitar 1/4 ketebalan serbuk sari dan 1/30 ketebalan rambut manusia.

    Managing Director QAFL Business Promotion Office Panasonic Corporation, Ichiro Suganuma, mengatakan kualitas udara menjadi perhatian Panasonic karena manusia membutuhkan napas lebih banyak ketimbang konsumsi lainnya. "Keperluan manusia sehari-hari adalah air, makanan, dan udara. Sebanyak 1,2 kg rata-rata kita minum air dan makanan 1,3 kilogram. Anda tahu, berapa banyak udara yang dibutuhkan? Rata-rata 18 kilogram," ujarnya.

    Singkatnya, teknologi Nanoe Panasonic bisa membantu manusia mendapatkan udara bersih dan menunjang kehidupan yang lebih baik. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.