Kriteria Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ala Buya Syafii

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CAPTION: Cendekiawan Buya Syafii saat dijenguk di RS PKU Muhammadiyah Gamping oleh Mensesneg Pratikno Sabtu (27/7). Tempo/Pribadi Wicaksono

    CAPTION: Cendekiawan Buya Syafii saat dijenguk di RS PKU Muhammadiyah Gamping oleh Mensesneg Pratikno Sabtu (27/7). Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Maarif Institute Ahmad Syafii Maarif atau Buya Safii meminta agar Presiden Joko Widodo memilih tokoh yang ahli dalam pendidikan untuk menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada periode mendatang.

    "Orang yang paham pendidikan yang menempati posisi itu, saya tidak bisa menyebut nama, tapi mengerti pendidikan dan luwes atau pandai bergaul," ujar Buya Syafii usai menghadiri seminar dan peluncuran buku pengayaan pengawas sekolah di Jakarta, Rabu.

    Dia menambahkan ada beberapa bidang yang harus diperhatikan oleh Mendikbud periode berikutnya, yakni pembentukan karakter siswa.

    Aspek afektif, kata dia, kurang mendapatkan perhatian saat ini, karena lebih pada kognitif.

    "Otak diisi, tapi jantung tidak diisi. Ini yang harus diperhatikan menteri berikutnya," kata dia.

    Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu, juga menambahkan pihaknya menyerahkan semua keputusan pada Presiden Jokowi.

    Meski demikian, ia berharap perlu mendapatkan perhatian karena Muhammadiyah telah bergelut dengan pendidikan selama lebih dari satu abad,

    Sejumlah pos kementerian, dinilai layak untuk ditempati kader Muhammadiyah, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Sosial, maupun Kementerian Kesehatan.

    Saat ditanya, apakah dia mengajukan kader untuk ditempatkan sebagai menteri, Buya Syafii menjawab tidak ada kader yang diajukan.

    Namun, dia hanya meminta untuk mempertimbangkannya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.