Tekan Perundungan, Hendi Berharap Sekolah Ramah Pada Siswa

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka kegiatan Sosialisasi Penerapan Pencegahan Bullying dan Disiplin Positif Tingkat SMP Kota Semarang, di Gedung Balaikota, Senin, 7 Oktober 2019.

    Wali kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka kegiatan Sosialisasi Penerapan Pencegahan Bullying dan Disiplin Positif Tingkat SMP Kota Semarang, di Gedung Balaikota, Senin, 7 Oktober 2019.

    INFO NASIONAL — Meski data dari Dinas Pendidikan Kota Semarang menunjukkan adanya penurunan kasus perundungan atau bullying dari 60 persen di 2013 menjadi lima persen saat ini, namun hal tersebut tetap menjadi fokus perhatian Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Menurutnya, hampir separuh waktu anak-anak ada di sekolah, sehingga sebagai orang tua ia juga mengikhlaskan anaknya untuk diajari di sekolah.

    “Sebenarnya tolok ukur kami para orang tua muda, melihat anak kita pagi-pagi semangat berangkat ke sekolah, sekolahnya pasti ramah anak,” ujar Hendi, sapaan akrab Wali Kota Semarang, saat membuka kegiatan Sosialisasi Penerapan Pencegahan Bullying dan Disiplin Positif Tingkat SMP Kota Semarang, di Gedung Balaikota, Senin, 7 Oktober 2019 lalu.

    Hendi juga mengatakan bahwa perundungan bisa terjadi dimulai dari ajakan siswa untuk mengejek siswa lain, atau bisa juga makian dari guru yang dilakukan secara tidak sadar kepada siswa.

    Untuk menekan perundungan di sekolah, Hendi menginginkan agar sekolah benar-benar bisa dijadikan rumah kedua bagi anak-anak. “Meski ada banyak tantangan, perilaku anak-anak kita di sekolah yang harus kita urai secara bersama-sama, kita evaluasi hubungan sesama temannya, dengan guru atau bahkan kita evaluasi kebijakan-kebijakan sekolah,” ujar Hendi.

    Menurut Hendi, guru memiliki peran dalam pencegahan dan pengawasan kasus perundungan di sekolah, baik yang berbentuk fisik maupun verbal. “Tugas pertama guru adalah mengingatkan, tidak boleh misalnya ada anak diintimidasi oleh temannya yang badannya lebih gede, itu pasti dia terganggu,” ucap Hendi.

    Senada dengan Hendi, Gunawan Saptogiri selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang mengungkapkan perlunya peningkatan pengawasan yang dilakukan secara berjenjang, di mana terdapat pengawas sendiri di setiap sekolah. “Sifatnya, jika ada laporan maka kita panggil. Yang paling penting, bagaimana menyangkut siswa. Kami bisa memulihkan psikologi mereka,” ujar Gunawan.

    Solusi lain, yakni perlunya guru untuk meningkatkan mutu pendidikan karakter kepada para siswa. Ia menilai peran guru berhasil apabila perundungan di sekolahnya tidak ada lagi. Lebih jauh, Gunawan menuturkan pentingnya penerapan nilai-nilai pendidikan karakter maupun Pancasila dilakukan sejak jenjang PAUD. "Sebenarnya di PAUD tak langsung diajari teori, namun lebih kepada praktik nilai sopan santun, disiplin, keberanian, yang merupakan penerapan Pancasila," kata Gunawan. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.