Ketua MPR Minta DPR dan Pemerintah Serap Kritik Soal RKUHP

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para tukang gigi dari berbagai kota di Jawa Barat melakukan aksi unjuk rasa menolak RUU KUHP Pasal 276 ayat 2 di depan DPRD Jawa Barat di Bandung, Kamis 26 September 2019. Dalam pasal tersebut, profesi tukang gigi bisa dipidana 5 tahun karena menjalankan pekerjaan menyerupai dokter. TEMPO/Prima mulia

    Para tukang gigi dari berbagai kota di Jawa Barat melakukan aksi unjuk rasa menolak RUU KUHP Pasal 276 ayat 2 di depan DPRD Jawa Barat di Bandung, Kamis 26 September 2019. Dalam pasal tersebut, profesi tukang gigi bisa dipidana 5 tahun karena menjalankan pekerjaan menyerupai dokter. TEMPO/Prima mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua MPR, Bambang Soesatyo, meminta DPR dan pemerintah menyerap aspirasi dan kritik masyarakat terkait Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP).

    "Pembahasan RKUHP memang sedang ditunda terlebih dahulu karena pemerintah dan DPR sepakat untuk mendinginkan suasana sehingga bisa kembali menyerap aspirasi dari berbagai elemen masyarakat," kata dia, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 8 Oktober 2019.

    Bamsoet mengatakan Indonesia sebenarnya memerlukan KUHP baru. Sebab, kitab yang sekarang ada merupakan peninggalan Belanda.

    Ia berharap DPR dan pemerintah akan melibatkan pelbagai kalangan dalam bidang ilmu sosial dan politik seperti Forum Dekan Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia maupun forum akademis lain untuk sama-sama membedah RUU KUHP.

    "Sehingga DPR RI dan pemerintah punya wawasan dari berbagai disiplin ilmu. Tidak hanya membedah, jika nantinya RUU KUHP rampung, berbagai kalangan dan praktisi juga bisa membantu sosialisasi secara masif sehingga masyarakat bisa ikut tercerahkan," kata dia.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.