50 Perantau NTB di Wamena Pulang ke Bima

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi korban konflik di Wamena turun dari pesawat setibanya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019. Sebanyak 51 korban konflik di Wamena tersebut dievakuasi dengan menggunakan pesawat hercules C130 milik TNI Angkatan Udara. ANTARA

    Pengungsi korban konflik di Wamena turun dari pesawat setibanya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019. Sebanyak 51 korban konflik di Wamena tersebut dievakuasi dengan menggunakan pesawat hercules C130 milik TNI Angkatan Udara. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 50 perantau asal Nusa Tenggara Barat di Wamena yang mengungsi ke Jayapura, Papua, setelah kerusuhan akhirnya pulang ke kampung halaman mereka. 

    Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Sosial NTB, Amir mengatakan 50 orang warga NTB tersebut berangkat pada Ahad, 6 Oktober 2019 menggunakan pesawat komersil via Makassar menuju Bima.

    "Rombongan pengungsi asal NTB dipulangkan menggunakan Lion Air JT 795 dengan jumlah pengungsi mencapai 50 orang yang seluruhnya berasal dari Kabupaten Bima," kata Amir yang saat ini berada di Sentani, Jayapura, Ahad, 6 Oktober 2019 .

    Amir mengatakan keberangkatan para pengungsi asal Bima ini sempat tersendat. Karena di saat yang sama, ada rombongan pengungsi dari provinsi lain, sekitar 20 orang yang ketinggalan pesawat.

    Amir menuturkan kemudahan dan kelancaran pemulangan pengungsi asal NTB ini juga merupakan peran penting dari Yonif 751 Sentani. Yonif mengerahkan sejumlah armada pengangkutan pengungsi dari posko ke bandara.

    Saat ini, masih ada 77 orang dari Kabupaten Bima yang belum pulang. Kemudian 4 orang dari Kabupaten Sumbawa, dan 3 orang dari Kabupaten Dompu. Sehingga total semua yang belum pulang sebanyak 105 orang.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.