120 Pengungsi Wamena Asal Jatim Tiba di Malang

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima pengungsi dari Wamena di gedung Bakorwil  Malang. Sebanyak 120 orang, 15 di antaranya anak-anak meninggalkan Wamena karena kerusuhan. Tempo/Eko Widianto

    Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima pengungsi dari Wamena di gedung Bakorwil Malang. Sebanyak 120 orang, 15 di antaranya anak-anak meninggalkan Wamena karena kerusuhan. Tempo/Eko Widianto

    TEMPO.CO, Malang -- Sebanyak 120 orang pengungsi kerusuhan Wamena, Provinsi Papua, tiba di Bandara Abdulrachman Saleh, Kota Malang, hari ini, Rabu, 2 Oktober 2019, menumpang pesawat Hercules TNI Angkatan Udara.

    Dari total pengungsi tersebut, 15 di antaranya anak-anak. Warga Jawa Timur itu kembali setelah pecah kerusuhan di Wamena sejak Senin lalu, 23 September 2019. Sedangkan 41 orang turun di Bandara Juanda, Surabaya.

    Para pengungsi Wamena berasal dari Pasuruan, Probolinggo, Jember,  Lumajang, dan Sampang. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan pengungsi kepada pemerintah kabupaten/kota masing-masing.

    "Sebagian besar hanya membawa baju yang melekat. Kami sediakan pakaian siap pakai. Ini cobaan, semoga rezeki semakin luas," kata Khofifah kepada para pengungsi.

    ADVERTISEMENT

    Mereka diserahkan kepada pemerintah daerah melalui dinas sosial masing-masing. Para pengungsi dibekali sembako, makanan siap saji, dan uang tunai Rp 1 juta per orang.

    Adapun pengungsi yang sakit dirawat di Rumah Sakit Saiful Anwar, Kota Malang, dan RS dr Soetomo, Surabaya.

    Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuka posko di Jayapura. Posko bertugas mendata pengungsi asal Jawa Timur yang akan dipulangkan dengan menumpang pesawat udara atau kapal laut.

    Supainah asal Probolinggo mengatakan tak membawa harta benda. Bahkan merasa trauma dan tak mau kembali lagi ke Wamena. Ia teringat situasi mencekam dan harus kehilangan teman dan tetangganya.

    "Beruntung bisa selamat," kata Supainah.

    Wanita itu merantau ke Wamena sejak 2007. Dia bekerja sebagai pegawai memasak untuk sebuah pabrik. Sedangkan dua anaknya tetap di Probolinggo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selain Makan di Warteg, Ini Sejumlah Kegiatan Asyik yang Bisa Dilakukan 20 Menit

    Ternyata ada banyak kegiatan positif selain makan di warteg yang bisa dilakukan dalam waktu 20 menit. Simak sejumlah kegiatan berikut...