Polri Dalami Video Viral Dugaan Penculikan Ninoy Karundeng

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo menunjukkan foto barang bukti tas dan bom saat menggelar konferensi pers terkait aksi teror yang terjadi di Indonesia di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Senin, 6 Mei 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo menunjukkan foto barang bukti tas dan bom saat menggelar konferensi pers terkait aksi teror yang terjadi di Indonesia di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Senin, 6 Mei 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Polri mendalami dugaan penculikan yang menimpa seorang netizen bernama Ninoy Karundeng. Ia diduga diculik setelah video yang memperlihatkan Ninoy babak belur dan diinterogasi beredar di media sosial.

    "Saya tanyakan ke teman-teman Siber dulu soal video itu untuk didalami," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta Selatan, pada Selasa, 1 Oktober 2019.

    Dalam rekaman video berdurasi 2 menit 42 detik itu, Ninoy tampak sedang diinterogasi oleh seorang pria di sebuah ruangan yang tidak diketahui lokasinya. Ninoy mengatakan ingin meliput demo di area gedung DPR/MPR ketika ditanya maksud kedatangannya ke tempat tersebut.

    "Kamu meliput demo di DPR, terus di dalam laptop kamu itu ada unsur-unsur kebencian yang diarahkan ke tokoh-tokoh yang sangat dekat dengan kita. Tujuannya apa?" tanya pria tak dikenal itu sambil mencecar.

    Pria tersebut kemudian menuding Ninoy sebagai buzzer.

    "Kamu bukannya khilaf, tapi itu memang sudah pekerjaan kalian. Kalian tanpa kerja seperti itu tak akan makan dan memang dandangnya kalian, pancinya kalian di situ," kata pria itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.