Kemendag Sosialisasi Pemanfaatan IE-CEPA di Makassar

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Roadshow Perjanjian Dagang Indonesia-EFTA CEPA di Makassar pada 26 September 2019.

    Roadshow Perjanjian Dagang Indonesia-EFTA CEPA di Makassar pada 26 September 2019.

    INFO NASIONAL — Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional bermitra dengan Swiss Cham Indonesia melakukan sosialisasi Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Cooperation (IE-CEPA) kepada segenap pemangku kepentingan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Kamis, 26 September 2019. Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif ini berlaku antara Indonesia dengan empat negara yang tergabung dalam European Free Trade Association (EFTA), yaitu Swiss, Liechtenstein, Islandia, dan Norwegia. 

    “Kita ingin agar manfaat IE-CEPA diketahui kalangan usaha dan khalayak umum sedari dini. Sehingga setelah proses ratifikasi di DPR selesai, diharapkan IE-CEPA dapat mulai berlaku selambat-lambatnya pada awal 2020. Kita harapkan pelaku usaha sudah mulai bersiap memanfaatkan skema preferensial ini, baik dalam perdagangan barang, jasa, ketenagakerjaan, investasi, dan kerja sama ekonomi,” ujar Direktur Perundingan Bilateral, Ni Made Ayu Marthini. 

    Lebih lanjut, Made menjelaskan bahwa secara umum terdapat tiga alasan untuk membentuk kerja sama ini. Pertama, selain karena negara EFTA memiliki daya beli yang tinggi, mereka termasuk dalam pasar nontradisional Indonesia. Kedua, EFTA dapat menjadi hub yang sangat strategis untuk ekspor tidak langsung Indonesia ke mitra perjanjian kerja sama negara-negara EFTA di seluruh dunia. Saat ini EFTA memiliki 29 perjanjian kerja sama dengan 40 negara, termasuk Uni Eropa. Ketiga, kerja sama EFTA juga diperkuat dengan kerja sama teknis di berbagai bidang untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri, seperti sektor pertanian, perikanan, manufaktur, transportasi. 

    Sedangkan, kerja sama di bidang pengembangan kapasitas, Indonesia-EFTA sepakat mewujudkan kerja sama yang konkret dalam sektor promosi ekspor, pariwisata, UMKM, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), kakao, kelapa sawit, pendidikan vokasional, industri maritim, serta perikanan. Pengembangan kapasitas ini akan dilakukan dengan melibatkan politeknik, vocational training centres, serta pihak swasta. 

    Untuk akses pasar perdagangan barang khususnya, manfaat yang didapatkan adalah tarif preferensi untuk sekitar 99 persen produk Indonesia ke EFTA, yaitu kelapa sawit, produk perikanan, emas, alas kaki, kopi, mainan, tekstil, furnitur, peralatan listrik, mesin, sepeda, dan ban. Sementara sektor jasa yang diuntungkan dalam IE-CEPA adalah jasa profesional, telekomunikasi, distribusi, pendidikan, konstruksi, lingkungan, keuangan, pariwisata, rekreasi dan budaya, serta transportasi. Sedangkan sektor yang berpotensi mendapatkan investasi langsung dari EFTA meliputi sektor keuangan dan perbankan, telekomunikasi, farmasi, kimia, plastik, pertambangan, migas, energi panas abumi, serta manufaktur dan jasa logistik. Dengan demikian, skema kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam berbagai lini. 

    Kegiatan sosialisasi IE-CEPA di Makassar dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai dengan diskusi panel dengan panelis Direktur Perundingan Bilateral, Ni Made Ayu Marthini, Ketua SwissCham Indonesia, Luthfi Mardiansyah, dan Head of Swiss Business Hub Indonesia, Wolfgang Schanzenbach. Sementara pada sesi kedua, disampaikan berbagai kisah sukses beberapa pelaku usaha yang berbisnis dengan mitra EFTA. Kisah sukses tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumput Laut Indonesia, Yodya Layla Achyat. 

    Sebelumnya, Indonesia dan negara-negara EFTA menandatangani IE-CEPA pada 16 Desember 2018 di Jakarta. Perjanjian ini akan meningkatkan akses pasar dan kepastian hukum di bidang perdagangan barang dan jasa bagi Indonesia dan EFTA. Selain itu, perjanjian juga mencakup berbagai ketentuan mengenai investasi, perlindungan kekayaan intelektual, penghapusan hambatan nontarif, termasuk ketentuan sanitasi dan fitosanitasi, kompetisi, fasilitasi perdagangan, perdagangan dan pembanguan berkelanjutan, serta kerja sama ekonomi. 

    EFTA merupakan negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia ke-23 dan negara sumber impor nonmigas ke-25 bagi Indonesia. Total perdagangan Indonesia-EFTA pada 2018 tercatat sebesar US$ 1,721 miliar; dengan nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 732,7 juta dan impor Indonesia sebesar US$ 988,9 juta. 

    Acara ini mengawali roadshow IE-CEPA yang dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri dari para pelaku usaha, pejabat aparatur daerah dan mahasiswa. Diharapkan, ke depannya akan ada pelatihan teknis untuk membantu pelaku usaha untuk masuk ke dalam akses pasar negara-negara EFTA. 

    “Selepas dari Makassar, sosialisasi IE-CEPA akan dilaksanakan di beberapa kota lainnya di Indonesia. Hal ini bertujuan agar pelaku usaha di berbagai daerah dapat mempersiapkan diri untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan ini,” kata Made. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.