Demonstrasi Ricuh di Bandung, 38 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa berorasi dalam unjuk rasa di Bandung, Jumat, 27 September 2019. Selain aksi  menolak revisi UU KPK dan RUU lain yang merugikan rakyat, mereka juga mengecam tindakan represif polisi yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa maupun yang luka-luka. TEMPO/Prima mulia

    Mahasiswa berorasi dalam unjuk rasa di Bandung, Jumat, 27 September 2019. Selain aksi menolak revisi UU KPK dan RUU lain yang merugikan rakyat, mereka juga mengecam tindakan represif polisi yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa maupun yang luka-luka. TEMPO/Prima mulia

     

    TEMPO, Bandung- Sedikitnya 38 orang peserta demonstrasi di Gedung DPRD Jawa Barat dilarikan ke rumah sakit.

    Data ini diperoleh dari tim medis yang menangani korban di Kampus Universitas Islam Bandung (Unisba).

    “Ada 433 korban luka yang dievakuasi ke sini (Unisba). Yang dirujuk ke rumah sakit 38 orang,” ujar petugas medis di Unisba pada hari ini, 30 September 2019.

    Korban dirujuk ke sejumlah rumah sakit, di antaranya RS Hasan Sadikin, Borromeous, Sariningsih, dan Halmahera. Kampus Unisba menjadi dijadikan tempat evakuasi bagi korban kericuhan dalam demonstrasi.

    Sejak pukul 19.00 WIB, pantauan Tempo, ambulans dan sepeda motor berlalu lalang membawa korban ke Aula Unisba.

    Kericuhan pecah sekitar pukul 17.00 WIB. Sebelumnya, massa demonstrasi yang memprotes Rancangan KUHP dan UU KPK tersebut menyampaikan tuntutannya di depan Gedung DPRD Jabar. Kericuhan terjadi setelah massa demonstrasi  menjebol pagar gedung.

    Polisi di dalam gedung menembakkan meriam air alias water cannon ke arah massa. Massa membalas dengan melempar benda tumpul hingga flare yang masih menyala.

    Polisi memukul mundur massa yang diperkirakan berjumlah lebih dari 300 orang. Massa berhamburan ke berbagai penjuru, termasuk ke Gedung Sate, Jalan Trunojoyo, hingga Jalan Cilamaya. Sambil terus memukul mundur massa, polisi menembakkan gas air mata.

    Meski telah dipukul mundur, massa masih saja ada yang terus melawan dengan melempari pagar betis polisi. Sepanjang Jalan Diponogoro, dari Gedung DPRD hingga Gedung Sate, massa dan polisi bersitegang.

    Hingga adzan Maghrib, massa dan polisi masih saling bersitegang. Lokasi bentrokan bergeser ke sekitar Museum Geologi dan persimpangan Jalan Trunojoyo.

    Sekitar pukul 20.00 massa masih terkonsentrasi di sejumlah titik, seperti di Jalan Surapati, sekitar Monumen Perjuangan, Jalan Banda, hingga ke persimpngan Cikapayang-Dago.

    Salah satu relawan medis dari Kampus Itenas Bandung, Jafar Rasyid, mengatakan korban kebanyakan mengeluhkan sesak nafas dan luka akibat benturan benda tumpul.

    “Banyaknya korban diangkut dari sekitaran Gedung Sate dan Monumen Perjuangan."

    Masyarakat yang melintas di kawasan Gedung Sate pun menjadi korban gas air mata polisi yang terbawa angin. “Saya tadi lihat ada anak kecil sama bayi yang kena gas air mata,” ucap Rasyid.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.