LBH Jakarta: 90 Orang Belum Pulang Usai Demo Ribuan Mahasiswa

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana ricuh aksi unjuk rasa di depan Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 24 September 2019. Aksi demonstrasi mahasiswa menolak RUU bermasalah mulai ricuh sekitar pulul 16.15 WIB. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Suasana ricuh aksi unjuk rasa di depan Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 24 September 2019. Aksi demonstrasi mahasiswa menolak RUU bermasalah mulai ricuh sekitar pulul 16.15 WIB. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Jakarta mencatat setidaknya 90-an orang dilaporkan tak kembali ke rumah usai demonstrasi di DPR RI, Selasa, 24 September 2019. Selasa adalah hari kedua dari dua hari demonstrasi besar mahasiswa menolak RUU bermasalah dan revisi atas UU KPK.

    Kepala Advokasi LBH Jakarta Nelson Nikodemus Simamora mengatakan data itu merupakan rekapitulasi dari pengaduan masyarakat. "Sekitar 90-an orang sempat dilaporkan oleh keluarga, kerabat, dan teman-temannya bahwa mereka tak kembali ke rumah," kata Nelson di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat malam, 27 September 2019.

    Nelson merinci, 90 orang itu meliputi para mahasiswa, alumni, pelajar, hingga masyarakat umum. Dia mengatakan data itu belum termasuk pengaduan yang belum terekapitulasi, maupun data orang-orang yang sempat ditahan oleh polisi kemudian dilepaskan. "Datanya per malam ini, belum diperbarui," ujarnya.

    Direktur LBH Jakarta Arif Maulana mengatakan LBH membuka forum pengaduan masyarakat itu sejak Rabu siang, 25 September 2019. Sejak itu, banyak yang melaporkan bahwa kenalan mereka yang ikut aksi di gedung DPR pada Selasa, 24 September 2019 belum pulang ke rumah. Pelapor meliputi orang tua, teman, dekan, hingga wakil rektor.

    Arif mengatakan dari laporan tersebut LBH dan sejumlah organisasi masyarakat sipil menelusuri keberadaan orang-orang yang dilaporkan. Mereka mendatangi Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Pusat, dan Polres Jakarta Barat yang diduga menjadi tempat penahanan orang-orang yang ditangkap. Namun, kata Arif, tim advokasi kesulitan mendapatkan akses informasi ihwal orang-orang yang ditangkap serta ditahan polisi.

    Bukan cuma itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan juga menelusuri sejumlah rumah sakit di Jakarta. Namun, Staf Advokasi KontraS Falis Agratama juga mengaku kesulitan mendapatkan data detail.

    "Tidak semua rumah sakit memberikan data yang kami minta. Ada yang memberikan angkanya saja, tetapi tidak detail nama dan luka yang dialami korban," kata Falis di Kantor LBH Jakarta menambahkan. 

    Sebelumnya, gelombang demonstrasi terjadi pada Senin-Rabu, 23-25 September 2019. Aksi unjuk rasa pada Senin-Selasa dilakukan oleh mahasiswa. Adapun pada Rabu, 25 September, aksi dilakukan oleh pelajar. Seluruhnya diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.