TNI AU Tangkap Calo Pungli Rp 1,5 Juta ke Pengungsi Wamena

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menunggu pesawat Hercules milik TNI AU di Pangkalan TNI AU Manuhua Wamena, Jayawijaya, Papua, Rabu 25 September 2019. Warga mengungsi meninggalkan Wamena menggunakan pesawat Hercules pascaaksi kerusuhan pada Senin (23/9/2019). ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra

    Warga menunggu pesawat Hercules milik TNI AU di Pangkalan TNI AU Manuhua Wamena, Jayawijaya, Papua, Rabu 25 September 2019. Warga mengungsi meninggalkan Wamena menggunakan pesawat Hercules pascaaksi kerusuhan pada Senin (23/9/2019). ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra

    TEMPO.CO, Wamena - TNI AU menangkap pelaku pemerasan terhadap para pengungsi korban kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua.

    Para korban rusuh Wamena tadi diperas ketika hendak menggunakan jasa penerbangan pesawat Hercules TNI Angkatan Udara.

    "Kami sudah menangkap calo yang mengambil Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta per orang," kata Kepala Detasemen TNI AU Wamena Mayor PNB Arief Jadmiko di Wamena hari ini, Jumat, 27 September 2019.

    Arief Jadmiko menuturkan bahwa TNI tidak memungut biaya dari warga yang hendak mengungsi dengan menumpang Hercules.

    Arief pun menerangkan pungutan liar (pungli) itu terjadi di luar lingkungan Detasemen TNI AU Wamena. Dia tak menerangkan berapa pelaku yang ditindak dan apakah ada aparat militer yang terlibat.

    "Setiap hari kami sampaikan kepada warga bahwa ini bantuan angkutan udara untuk kemanusiaan sehingga tidak dipungut biaya."

    Sehari setelah terjadi kerusuhan di Wamena pads Srnin, 23 September 2019, TNI AU memberikan tumpangan gratis bagi warga yang hendak keluar dari Jayawijaya. Jumlah pengungsi terus bertambah.

    Hari ini, ratusan orang memadati Bandara Kargo di Wamena. Bahkan ada yang mengaku sudah tiga hari menunggu giliran. Mereka terdiri masyarakat asli Papua dan pendatang.

    TNI AU memperkirakan jumlah pengungsi menurun pada tiga hari terakhir. Tapi, kata Arief, kenyataannya sejak Jumat pagi tadi  sudah berkumpul hampir 1.500 orang yang meminta keluar dari Wamena.

    Dia menjelaskan, kapasitas Hercules 160-170 orang sekali terbang sehingga para pengugsi mengantre selama tiga hingga empat hari. TNI AU memutuskan muatan tak bisa terlalu banyak sebab yang diangkut adalah anak-anak dan perempuan. 

    "Jangan sampai ibu yang membawa bayi terjepit," ucap Arief.

    Dia berharap Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membantu warga yang ingin keluar dari Jayawijaya, misalnya melibatkan maskapai penerbangan sipil yang beroperasi di Wamena.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Atlet E-Sport, Jadi Miliarder Berkat Hobi Bermain Video Game

    Dunia permainan digital sudah bukan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kini, para atlet e-sport mampu meraup miliar rupiah hasil keterampilan mereka.