Cerita Berdirinya SMP Negeri di Kampung Terluar Utara Indonesia

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah siswa SMPN 03 Bunguran Barat melakukan kegiatan capacity building bersama relawan Bakti Nusantara pada 23 September 2019 di Kampung Segeram, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Tempo/ Halida Bunga

    Sejumlah siswa SMPN 03 Bunguran Barat melakukan kegiatan capacity building bersama relawan Bakti Nusantara pada 23 September 2019 di Kampung Segeram, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Tempo/ Halida Bunga

    TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan Tunas Bakti Nusantara baru saja merampungkan kegiatan pembangunan pada sektor pendidikan di Kampung Segeram, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Upaya ini dilakukan sejak 2017, dimulai sejak mengajukan Segeram masuk dalam program SMP Satu Atap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

    Pembangunan itu berhasil. SMPN 03 Satap Bunguran Barat kini tegak berdiri dan telah memulai kegiatan belajar mengajarnya sejak pertengahan 2018. Sekolah itu lalu diresmikan oleh Mendikbud, Muhadjir Effendy pada Kamis, 19 September 2019 lalu. Sekolah itu kini jadi penyambung nadi kehidupan Segeram.

    Teguh Dwi Nugroho, Direktur Eksekutif Yayasan Tunas Bakti Nusantara mengatakan Bakti Nusantara harus berani datang ke Segeram. "Penduduk cuma sedikit, tapi ini orang Indonesia loh. Kalau kita enggak datang ya enggak akan selesai. Kita akan gerak terus bukan untuk mempermasalahkan masalah tapi kita akan beri gerakan nyata," katanya.

    Hal itu tak berlebihan dan bukan tanpa alasan. Kampung Segeram merupakan satu kampung Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) paling utara Indonesia. Segeram menjadi tapal batas kedaulatan negara yang berbatasan langsung dengan laut cina selatan.

    Selama sepuluh tahun terakhir, Segeram terancam ditinggalkan penduduknya akibat tak adanya pembangunan akses jalan, listrik, dan telekomunikasi. Namun di tengah semua kekurangan itu, pendidikan justru menjadi faktor utama puluhan Kepala Keluarga pergi meninggalkan Segeram.

    Berdasarkan penelusuran Tempo, sejak tahun 1990, Kampung Segeram terdiri lebih dari 160 Kepala Keluarga (KK). Namun karena pendidikan hanya sampai tingkat Sekolah Dasar, orang tua lebih memilih minggat ke kelurahan Sedanau dan Kelarik demi pendidikan, meski penghasilan perikanannya lebih kecil. Hal ini telah terjadi sejak 10 tahun belakangan.

    Hingga dua tahun terakhir, tersisa 32 KK dengan 105 penduduk dan 30 rumah. Untuk itu, sejak 2017, Yayasan Tunas Bakti Nusantara berupaya menjebolkan Segeram dalam program Kemendikbud. Tak hany SMPN 3 Satu Atap Bunguran Barat, Bakti Nusantara juga secara mandiri kini mendirikan laboratorium komputer dan perpustakaan beserta sarana dan prasarananya.

    Salah seorang tokoh masyarakat Segeram, Heru Diwan Arpas bercerita kepada Tempo, jika Segeram tak memiliki SMP, besar kemungkinan Segeram punah tanpa penghuni.

    Heru menyebut saat ini SMPN 3 Satap Bunguran Barat telah memiliki 8 murid yang terdiri dari 3 siswa kelas 7 dan 5 siswa kelas 8 yang merupakan lulusan SDN 010 di Segeram. Itu berarti, ada 8 keluarga yang tidak meninggalkan Segeram sejak 2018.

    "Kalau enggak ada SMP di Segeram, maka 8 keluarga itu sudah pasti keluar. Maka 35 KK kurang 8 jadi 27 KK. Makanya tiap tahun ada 5-4 KK keluar. Lama-lama bisa habis dan sekolah SD bakal tutup," katanya pada Selasa, 24 September 2019.

    Untuk mencapai hasil yang maksimal, Teguh yang juga merupakan dokter spesialis bedah ini mengatakan, pihaknya ingin kerja sosialnya bersifat holistik. Upaya ini pun berlanjut hingga ke puncak acara Bakti Nusantara (BN) 2019 pada 23-25 September 2019 di Segeram.

    BN 2019 baru saja melibatkan 50 relawan dari berbagai profesi seperti dokter, guru, ahli perkebunan, pegiat literasi, hingga peneliti sosial. Kegiatan selama tiga hari ini terdiri dari 3 program utama yaitu Bangun, Sehat dan Inspirasi.

    Program Bangun mencakup pembangunan infrasturktur. Sedangkan dala. program Sehat dan Inspirasi, terdapat kegiatan Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan (PKTK) kepada bidan dan perawat di Natuna, penyuluhan guru oleh PGRI kepada puluhan guru dari beberapa kecamatan, dan penyuluhan pertanian dan perkebunan bagi warga setempat.

    Kegiatan yang juga melibatkan Pemerintah Kabupaten Natuna, TNI dan Polri ini juga terdiri dari kegiatan Kemah Perdamaian, Pramuka, latihan menulis, donor darah, sunatan massal, cek kesehatan, penyuluhan gizi dan pencegahan stunting dan parenting.

    Wakil bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti, menyampaikan rasa syukur dan harapannya di hari penutupan rangkaian kegiatan BN 2019. Di kunjungannya yang ketiga, Yuni mengatakan kedatangan BN 2019 membuat Natuna semakin terpanggil untuk membangun Segeram.

    Yuni mengatakan, kini Pemkab semakin yakin ingin Segeram tak lagi menjadi daerah terisolir, tapi menjadi daerah berkembang dengan lebih baik yang berkemampuan dalam pengolahan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang unggul.

    "Kepada BN 2019, yang membangun Segeram, terima kasih. Semoga Natuna bisa sejajar dengan daerah lain di Indonesia dan tak jadi terluar tapi jadi yang terdepan," kata Yuni.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.