BNPB: Korban ISPA Akibat Karhutla Mencapai 900 Ribu Jiwa

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Api mambakar lahan milik warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu, 22 September 2019. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga 30 September 2019. ANTARA

    Api mambakar lahan milik warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu, 22 September 2019. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga 30 September 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaksana harian Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengungkapkan jumlah kumulatif penderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 919.516 jiwa.

    "Data dari Kemeterian Kesehatan (Kemenkes) per tanggal 23 September 2019, penderita ISPA mencapai sekitar 919 orang di enam provinsi Indonesia," kata Agus saat konferensi pers di Ruang Serbaguna Dr. Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin 23 September 2019.

    Agus menyebutkan penderita ISPA terbanyak berada di provinsi Sumatera Selatan dengan 291.807 jiwa dan Riau dengan jumlah 275.793 jiwa.

    Kemudian disusul oleh provinsi Kalimantan Barat dengan jumlah 180.695 jiwa, Kalimantan Selatan dengan 67.293 jiwa, serta provinsi Jambil mencapai 63.554 jiwa. Sementara itu, penderita ISPA paling sedikit berada di provinsi Kalimantan Tengah dengan 40.374 jiwa.

    Untuk menangani korban ISPA tersebut, Agus mengungkapkan pemerintah telah mendistribusikan bantuan berupa masker ke setiap provinsi terdampak. Untuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Jambi, pemerintah telah mengirimkan masing-masing provinsi sejumlah 20 ribu masker. Sementara itu, pemerintah juga mendistribusikan 23 ribu masker ke Riau. Sedangkan untuk provinsi Sumatera Selatan sebanyak 29 ribu masker.

    Selain bantuan masker, Agus mengungkapkan pemerintah juga membuka rumah singgah di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan. "Di sana, pemerintah menempatkan dokter dan perawat. Jadi masyarakat bisa datang untuk memeriksakan kesehatannya, bisa minta masker, ada obat-obat sederhana, serta ada juga makanan tambahan untuk bayi dan ibu hamil," kata dia.

    GALUH PUTRI RIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.