Aksi Mahasiswa Gejayan Memanggil, Rektor Lepas Tangan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi mahasiswa Yogya di simpang Gejayan Senin (23/9). Tempo/Pribadi Wicaksono

    Aksi mahasiswa Yogya di simpang Gejayan Senin (23/9). Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Aksi ribuan mahasiswa bertajuk Gejayan Memanggil tak direstui para rektor universitas yang ada di sekitar kawasan itu.

    Rektor Universitas Gadjah Mada atau UGM, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, dan Rektor Universitas Atma Jaya satu suara soal aksi mahasiswa yang menolak RUU kontroversial.

    Mereka mengeluarkan surat edaran supaya mahasiswa mereka tidak ikut aksi demonstrasi, Senin, 23 September 2019. Meski begitu, ribuan mahasiswa tetap memadati jalan yang pada 1998 menjadi ajang aksi demonstrasi menentang Orde Baru.

    “Bahwa UGM tidak terlibat dan tidak mendukung aksi tersebut.
    Kegiatan akademik pada 23 September 2019 tetap berjalan seperti biasa. Untuk itu, para
    mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan di lingkungan UGM diminta untuk tetap
    melakukan aktivitas akademik seperti biasa,” kata Rektor UGM Panut Mulyono di surat edaran itu, Senin, 23 September 2019.

    Ia meminta partisipasi terhadap aksi tersebut untuk tidak melibatkan UGM dalam bentuk apapun. Jika mahasiswa ada yang ikut dalam aksi maka menjadi tanggung jawab pribadi.

    Begitu pula rektor Atma Jaya Yoyong Arfiadi telah mengirim surat ke para dekan yang isinya supaya sivitas akademika tidak terprovokasi pada informasi akan adanya aksi.

    “Kegiatan akademik dan perkuliahan berjalan seperti biasa,” kata dia.

    Rektor Universitas Sanata Dharma Johanes Eka Priyatma menyatakan tidak terlibat dan terikat secara institusional dalam aksi itu. Universitas Sanata Dharma tidak mendukung gerakan tersebut oleh karena tidak jelasnya dan tujuan dan pertanggungjawaban aksi demonstrasi.

    "Perkuliahan dan layanan administrasi perkantoran pada 23 September tetap berlangsung sebagaimana mestinya,” kata dia.

    Dalam surat edaran itu, Universitas Sanata Dharma akan melakukan berbagai tindakan preventif yang
    perlu demi menjamin keselamatan, keamanan, dan ketertiban kehidupan kampus mulai tanggal 23 September 2019 dan hari-hari sesudahnya jika dipandang perlu.

    Sedangkan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Sutrisna Wibawa juga mengeluarkan surat edaran. Isinya universitas ini tidak terlibat dan tidak mendukung gerakan mahasiswa tersebut.

    Dalam surat edaran itu juga disebut bahwa akun rektor UNY@JeveViole yang beredar dalam media sosial dengan melibat nama
    Rektor UNY hoaks. Karena akun resminya di media sosial adalah @unyofficial.

    “Keikutsertaan dalam aksi tersebut menjadi tanggung jawab pribadi dan untuk tidak melibatkan UNY dalam bentuk apa pun,” kata Rektor UNY dalam suratnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.