Tersangka Makar Papua Mengeluh Sulit Dikunjungi Keluarga

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono saat mengunjungi ruang tahanan tersangka makar pengibaran bendera Bintang Kejora di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jumat 20 September 2019. DOK HUMAS POLDA

    Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono saat mengunjungi ruang tahanan tersangka makar pengibaran bendera Bintang Kejora di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jumat 20 September 2019. DOK HUMAS POLDA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ahmad Taufan Damanik mengatakan ada keluhan yang disampaikan enam tahanan tersangka dugaan makar Papua yang mengibarkan bendera Bintang Kejora di Istana Negara, saat unjuk rasa pada 28 Agustus 2019.

    "Mereka memang menyampaikan ada beberapa keluhan ya," kata Taufan usai mengunjungi para tahanan di Rumah Tahanan Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 21 September 2019.

    Salah satu keluhan yang disampaikan adalah kemudahan akses bertemu keluarga dan kerabat. Taufan menuturkan, keenam tahanan Papua juga merasa sulit berkomunikasi secara intensif dengan keluarga mereka. Keluhan itu, kata Taufan, telah disampaikan kepada penyidik.

    Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu, keenam tahanan Papua menyampaikan pada Komnas HAM bahwa kondisi mereka sehat, serta mendapat pelayanan kesehatan dan rohani selama ditahan. "Ada juga pelayanan makanan yang bagus menurut mereka, mereka senang, tapi ingin bisa berkomunikasi dengan keluarga lebih intensif," kata Taufan.

    Selain berbincang dengan keenam tersangka, Taufan beserta Ketua Majelis Rakyat Papua Timotius Murib juga melakukan kunjungan ke ruang tahanan mereka. Dari hasil pengamatan, Taufan menilai ruang yang mereka tempati bukanlah ruang isolasi, seperti yang diisukan sebelumnya. Meski begitu, ia mengatakan akan meminta pihak penyidik untuk memberikan fasilitas yang lebih baik kepada tahanan.

    Timotius menambahkan, tujuan kedatangannya ke Mako Brimob untuk memastikan kondisi kesehatan para tahanan Papua. Pasalnya, ada isu yang beredar di kalangan masyarakat Papua bahwa keenam tersangka tinggal di ruang tahanan yang tidak laik dan mendapat kekerasan.

    "Untuk memastikan kondisi terakhir seperti apa kepada keluarga dan masyarakat pada umumnya di Papua, itulah MRP harus datang ke Jakarta, Mako Brimob, untuk memastikan," kata Timotius.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.