Drone Emprit Temukan Cara Buzzer Serang KPK Lewat Give Away

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wadah Pegawai KPK bersama para aktivis antikorupsi melakukan aksi renungan dan malam di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 17 September 2019. Wadah Pegawai KPK dan Koalisi Masyarakat Anti Korupsi melakukan malam renungan bertajuk

    Wadah Pegawai KPK bersama para aktivis antikorupsi melakukan aksi renungan dan malam di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 17 September 2019. Wadah Pegawai KPK dan Koalisi Masyarakat Anti Korupsi melakukan malam renungan bertajuk "Pemakaman KPK" untuk menyikapi pelemahan KPK seusai DPR mengesahkan revisi UU KPK. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Associate Researcher Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Ismail Fahmi menemukan pasukan Siber di media sosial yang menyerang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

    “Banyak isu sampingan menyerang KPK untuk mendistorsi publik. Namun isu utama yang adalab KPK dan taliban,” kata Ismail saat dihubungi, Rabu 18 September 2019.

    Ismail menggunakan teknologi buatannya yang bernama Drone Emprit. Teknologi ini memantau dan mengelompokkan percakapan di Twitter.

    KPK dan taliban ini tercatat selama 10 September hingga 17 September 2019 sudah 26.372 kali beredar di jagat maya. Disebarkan melalui Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, dan media online.

    Isu taliban ini dinilai efektif dalam menyerang KPK. Karena ada cerita di balik isu tersebut, yang menjadikan isu ini memancing emosi pembacanya. Untuk menangkal isu ini, kata Fahmi, pimpinan KPK, dan pendukung KPK sampai harus mengklarifikasi. Padahal menurutnya isu ini sebetulnya hanya kerikil kecil, namun berkontribusi besar mencoreng citra KPK. “Efektif sekali,” katanya.

    Fahmi mengatakan banyak alat yang digunakan para pasukan siber ini untuk menyerang KPK. Seperti tagar, meme, atau video. Namun, yang menurut Ismail paling mudah mudah ditanggapi publik adalah hashtag alias tagar.

    Selain isu KPK dan Taliban, ada tagar-tagar lain seperti #KPKPATUHATURAN, #KPKCengeng, #DukungRevisiUUKPK, dan banyak lainnya. 

    Ismail menjabarkan bagaimana skema pasukan siber mengangkat sebuah tagar agar dibaca banyak orang. Salah satunya adalah membuat giveaway atau dengan memberikan imbalan bagi orang yang menanggapi sebuah cuitan di akun Twitter.

    Skema giveaway ini contohnya digunakan oleh akun @MenuWarteg. Ia menulis “Giveaway Sore. 50K buat 2 orang yang beruntung. (Masing2 25K OVO/Gopay/Pulsa). RT & reply dengan domisili kamu #KPKPATUHAturan.”

    Penanggap cuitan ini ada akun-akun asli, dan pengguna asli, namun ada juga robot. Para akun robot ini selain menanggapi cuitan, mereka juga aktif menuliskan tweet. Karakteristik yang paling mudah dilihat adalah, kecepatannya mengunggah cuitan. Salah satu akun @RizalSaputraa94 yang mencuitkan lima tweet dalam waktu yang persis sama.

    “Bisa enggak kita ngetweet lima cuitan dalam satu menit,” ucap dia.

    Ismail mengatakan serangan kepada KPK melalui media sosial ini tidak hanya berjalan satu arah. Namun narasi yang dibangun hampir mirip dengan demo-demo di lapangan yang mendukung revisi Undang-Undang KPK.

    “Itu sesuai dengan yang demo di lapangan. Jadi ada aksi darat, dan aksi udara, itu berjalan semua,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.