DPR Setuju Usia Perkawinan 19 Tahun, BKKBN: Yang Ideal 21 Tahun

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hasto Wardoyo resmi dilantik sebagai Kepala BKKBN oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek di kantor BKKBN Jakarta, Senin, 1 Juli 2019. (dok BKKBN)

    Hasto Wardoyo resmi dilantik sebagai Kepala BKKBN oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek di kantor BKKBN Jakarta, Senin, 1 Juli 2019. (dok BKKBN)

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan akan tetap mengkampanyekan usia perkawinan di atas 21 tahun meski revisi UU Perkawinan sepakat usia nikah minimal 19 tahun.

    "Batas usia nikah DPR menyepakati usia 19 tahun, saya ngerti. Hanya kalau kami kampanye 21 tahun atau lebih dari 20, tidak salah tidak melanggar undang-undang toh," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di Surabaya, Senin, 16 September 2019.

    Dia mengatakan meski revisi UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yang disahkan DPR menetapkan usia minimal perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan, BKKBN tetap mengampanyekan usia minimal perkawinan 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

    Hasto yang memiliki latar belakang sebagai dokter spesialis kebidanan dan kandungan menjelaskan bahwa usia 19 tahun untuk perkawinan belum ideal bagi perempuan.

    Menurut dia, perempuan yang telah melakukan perkawinan di bawah usia 19 tahun memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks atau mulut rahim. Hal itu dikarenakan mulut rahim perempuan di bawah usia 20 tahun bersifat ekstropion atau terbuka yang berisiko terkena kanker mulut rahim pada 15-20 tahun mendatang bila telah melakukan hubungan seksual di bawah usia ideal.

    Dia berharap ke depannya regulasi juga akan menaikkan usia perkawinan di atas 19 tahun hingga mencapai usia biologis perkawinan.

    "Mudah-mudahan undang-undangnya makin lama makin menyentuh usia biologis, usia 20 tahun ke atas itu usia biologis yang ideal. Jadi kami mungkin tidak berdebat karena kami berbasis biologis," kata Hasto.

    Selain itu Hasto juga mengatakan bahwa memiliki dua anak dinilai lebih sehat dilihat dari sisi biologisnya. Hasto menyebut perempuan yang melahirkan anak lebih dari dua memiliki risiko pendarahan yang lebih tinggi.

    "Sebetulnya secara biologis dua anak lebih sehat, ideal itu boleh diterjemahkan dua anak lebih sehat," kata Hasto menanggapi jargon dua anak cukup yang lekat dengan BKKBN diganti dengan dua anak ideal.

    Hasto yang pernah menjabat Bupati Kulon Progo menyebutkan BKKBN dalam waktu dekat akan mengubah berbagai jargon, logo, dan sebagainya untuk mendapatkan perhatian lebih dari para kaum muda.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.