Hasil Survei BPS Indeks Perilaku Antikorupsi Naik, Apa Artinya?

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, Senin 16 Oktober 2017. TEMPO/M. Julnis Firmansyah

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, Senin 16 Oktober 2017. TEMPO/M. Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat indeks perilaku antikorupsi atau IPAK Indonesia sepanjang 2019 mencapai 3,7 dari skala 0 sampai 5.

    Nilai ini sedikit lebih tinggi dari capaian tahun sebelumnya yakni 3,66.

    “Artinya angka IPAK 2019 naik 0,04 poin dibanding IPAK 2018," ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin, 16 September 2019. "Makin tinggi angkanya, berarti masyarakat kita makin sadar akan korupsi."

    Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Margo Yuwono mengatakan survei ini dilaksanakam di 33 provinsi dengan jumlah sampel 9.952 rumah tangga.

    Survei tidak dipengaruhi oleh fenomena pemilihan Pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK yang terjadi baru-baru ini.

    “Survei ini dihitung sampai Maret 2019,” ujar Margo.

    Survei IPAK hanya mengukur perilaku masyarakat dalam tindakan korupsi skala kecil alias petty corruption sehingga tidak mencakup korupsi skala besar atau grand corruption.

    Suhariyanto menjelaskan indeks antikorupsi disusun berdasarkan dua dimensi, yakni persepsi dan pengalaman masyarakat.

    Dimensi persepsi dihitung berdasarkan penilaian masyarakat terhadap perilaku korup. Sedangkan dimensi pengalaman dihitung menurut pengalaman antikorupsi yang terjadi di masyarakat.

    Secara rinci, menurut Suhariyanto, indeks pengalaman antikorupsi pada 2019 mengalami kenaikan 0,08 ketimbang tahun sebelumnya dari 3,57 menjadi 3,65.

    Sementara itu, indeks persepsi antikorupsi malah melorot 0,06 dari 3,86 pada 2018 menjadi 3,8 pada 2019. Penurunan ini menunjukkan indeks persepsi tahun ini semakin permisif.

    “Ini sesuatu yang unik karena IPAK secara umum naik, indeks pengalaman naik, tapi indeks persepsinya turun,” ujar Suhariyanto.

    Berdasarkan kelompok usianya, BPS menemukan penduduk umur 40 sampai 59 tahun paling antikorupsi. IPAK untuk kelompok usia ini berkisar 3,73 poin, lebih tinggi ketimbang nilai IPAK untuk kelompok usia 40 tahun ke bawah dan 60 tahun ke atas yang hanya 3,66.

    Adapun menurut pendidikannya, masyarakat yang semakin tinggi mengenyam bangku sekolah terlihat makin menentang perilaku rasuah.

    IPAK untuk masyarakat dengan pendidikan di atas sekolah menengah atas (SMA) mencapai 4,05 poin. Sedangkan IPAK untuk masyarakat yang hanya lulusan SMA rata-rata 3,94 poin.

    “IPAK menurut karakteristik responden dengan pendidikan di bawah SMA sebesar 3,57 poin." 


     

     

    Lihat Juga