Alasan BMKG Kesulitan Buat Hujan Buatan di Masa Kemarau Panjang

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara menembus kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Kamis, 12 September 2019. Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah di Provinsi Riau yang terpapar kabut asap karhutla di mana dalam tiga hari belakangan ini kabut asap semakin parah dirasakan masyarakat di kota itu. ANTARA

    Pengendara menembus kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Kamis, 12 September 2019. Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah di Provinsi Riau yang terpapar kabut asap karhutla di mana dalam tiga hari belakangan ini kabut asap semakin parah dirasakan masyarakat di kota itu. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaku kesulitan membuat hujan buatan selama kemarau panjang tahun ini. "Bibit awan yang akan disemai itu hampir tidak ada," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, saat ditemui di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu, 14 September 2019.

    Hujan buatan diharapkan menjadi solusi untuk mengurai polutan akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi belakangan. Sejak Jumat malam, 13 September 2019, BMKG mendeteksi adanya awan hujan di tujuh daerah. Ketujuh daerah itu aalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Utara, Papua Barat, dan Papua.
    |
    Dwikorita meminta agar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selalu siap jika ada awan hujan muncul. "Setiap menit kami pantau kapan awan muncul, kami minta Pak Doni (Kepala BNPB) untuk segera bertindak di lapangan menembak awan itu dengan garam supaya menyemaikan untuk awan hujan,” ujar Dwi Korita.

    BMKG mencatat polutan di udara akibat asap dari terbakarnya hutan dan lahan, sudah semakin parah. Di Pekanbaru, nilai ambang batas polutan sudah melewati garis merah sejak 9 September. "Kemarin, 13 September, melonjak sampai 300 mikron. Ini alasan mendesak kenapa hujan buatan itu segera ditembak," kata Dwikorita.

    BMKG meprediksi puncak musim kemarau 2019 jatuh pada Agustus. Namun, dampaknya akan terasa hingga akhir September. Kemarau ini menjadi pemicu sekaligus mempersulit kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah daerah di Jakarta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.