Sudirman Said: Mundurnya Saut Situmorang Tanda Ada Ketidakberesan

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Materi dan Debat, Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Sudirman Said,  di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat pada Sabtu, 1 Desember 2018. (Andita Rahma)

    Direktur Materi dan Debat, Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Sudirman Said, di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat pada Sabtu, 1 Desember 2018. (Andita Rahma)

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, berkomentar soal mundurnya Saut Situmorang dari jabatan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut Sudirman, mundurnya Saut menandakan ada hal yang tak beres.

    "Pak Saut adalah pribadi yang tegar dan kuat. Kalau orang seperti dia mundur, seharusnya menjadi semacam lonceng peringatan, ada hal yang tidak beres," kata Sudirman Said melalui pesan pendek, Jumat 13 September 2019.

    Saut mundur dari jabatannya sebagai reaksi atas dipilihnya Irjen Firli Bahuri oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) selepas uji kelayakan Jumat, 13 September 2019 dini hari. Melalui surat elektronik, Saut menyampaikan berita pengunduran diri ini.

    Reaksi Saut, dinilai Sudirman sebagai bel panggilan kepada seluruh masyarakat yang masih menyayangi Indonesia. Menurutnya hari-hari ini akan tercatat dalam sejarah sebagai situasi yang amat suram bagi pemberantasan korupsi.

    "Bangsa ini sedang berduka, kehilangan tokoh panutan utama, Presiden BJ Habibie. Tapi di tengah suasana duka proses "pemerkosaan" pada KPK terus dilangsungkan dan seperti luput dari perhatian," kata dia.

    Nama Firli Bahuri sejak awal pemilihan capim KPK menuai kontroversi dan kritik. Pasalnya Kepala Polda Sumatera Selatan itu tercatat melakukan sejumlah pertemuan dengan pihak yang terseret perkara korupsi di KPK.

    Dugaan pelanggaran itu terkait pertemuan Firli Bahuri dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang Zainul Majdi atau TGB. Padahal saat itu KPK sedang menyelidiki dugaan korupsi kasus divestasi Newmont yang menyeret nama TGB.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.