Politikus Nasdem Cecar Johanis Tanak: Jangan Inkonsisten

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR Jhony Plate (kiri) dan ketua DPP Partai Nasdem Zulfan Lindan, memberikan keterangan kepada awak media, di Gedung DPP Partai Nasdem, Jakarta, 7 Agustus 2017. DPP Partai NasDem menegaskan bahwa rekaman pidato ketua fraksi Partai Nasdem DPR Viktor B Laiskodat di Kabupaten Kupang, NTT pada 1 Agustus 2017 telah diedit rekamannya yang menyebut Partai Gerindra sebagai salah satu partai yang mendukung kelompok gerakan khilafah. TEMPO/Imam Sukamto

    Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR Jhony Plate (kiri) dan ketua DPP Partai Nasdem Zulfan Lindan, memberikan keterangan kepada awak media, di Gedung DPP Partai Nasdem, Jakarta, 7 Agustus 2017. DPP Partai NasDem menegaskan bahwa rekaman pidato ketua fraksi Partai Nasdem DPR Viktor B Laiskodat di Kabupaten Kupang, NTT pada 1 Agustus 2017 telah diedit rekamannya yang menyebut Partai Gerindra sebagai salah satu partai yang mendukung kelompok gerakan khilafah. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta-Politikus Partai Nasdem Zulfan Lindan mencecar calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2019-2023, jaksa Johanis Tanak. Johanis dicecar lantaran ceritanya yang dianggap tak konsisten ihwal intervensi Jaksa Agung M. Prasetyo dalam sebuah penanganan kasus.

    "Jadi yang saya minta konsistensi, jangan ngomong di sana lain di sini lain. Ini yang buat kami kadang-kadang memilih capim KPK jangan yang model begini Pak, konsisten itu penting," kata Zulfan dalam fit and proper test capim KPK dengan Komisi Hukum DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.

    Dalam uji publik bersama Panitia Seleksi Capim KPK beberapa saat lalu, Johanis mengatakan dirinya sempat dipanggil Jaksa Agung M. Prasetyo saat sedang menelisik perkara korupsi mantan Gubernur Sulawesi Tengah Bandjela Paliudju. Bandjela merupakan politikus Partai Nasdem, yang juga merupakan partai asal Prasetyo.

    Menurut beberapa pemberitaan, Johanis disebut mendapat intervensi dari Jaksa Agung. Namun dalam fit and proper test ini dia membantah pernah mengatakan bahwa dirinya diintervensi oleh Prasetyo.

    "Saya tidak mengatakan diintervensi. Kalau itu yang mengatakan media, itu versi media. Saya demi Tuhan tidak mengatakan itu," kata Johanis.

    Namun menurut Zulfan, pernyataan Johanis juga tak sinkron satu dan lainnya. Di satu sisi, Johanis mengatakan bahwa akan mengikuti apa kata atasannya terkait penyelesaian kasus. Johanis beralasan Jaksa Agung merupakan pemimpin tertinggi berdasarkan UU Kejaksaan.

    Namun di sisi lain, saat ditanya soal rekam jejaknya yang dianggap buruk oleh KPK, Johanis mengatakan hal itu karena mandeknya suatu kasus. Dia mengklaim ada satu kasus yang diusutnya tak rampung karena dia dipindah dari posisi Kepala Kejaksaan Tinggi.

    "Bapak tadi menyatakan kalau jaksa tinggi tetap saya teruskan (kasus) itu. Tapi di sini Bapak bilang, ya kalau Bapak Jaksa Agung meminta saya hentikan kasus ini, saya hentikan," kata Zulfan.

    Zulfan mengatakan awalnya tak ingin berbicara dalam forum ini karena kawatir dianggap ada konflik kepentingan. Namun dia merasa harus angkat suara karena Johanis tak konsisten.

    "Saya sebetulnya tadi enggak mau ngomong, saya takut ada conflict of interest. Tapi terakhir-terakhir saya mengamati, terjadi inkonsistensi," kata Zulfan.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.