Malaysia dan Filipina Tertarik Liputan Tempo tentang ISIS

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan mantan kombatan Negara Islam Irak dan Suriah asal Indonesia dan keluarganya terlunta-tunta di penjara dan kamp pengungsian. Wartawan Tempo menemui mereka dan menembus Raqqah, Suriah, ibu kota ISIS yang kini porak-poranda.

    Ratusan mantan kombatan Negara Islam Irak dan Suriah asal Indonesia dan keluarganya terlunta-tunta di penjara dan kamp pengungsian. Wartawan Tempo menemui mereka dan menembus Raqqah, Suriah, ibu kota ISIS yang kini porak-poranda.

    TEMPO.CO, Jakarta - Laporan Majalah Tempo Mengejar Mimpi ISIS yang terbit pada 17-23 Juni 2019 lalu, menjadi pembahasan dalam pertemuan tiga negara. Yakni, Indonesia, Malaysia dan Filipina. “Laporan itu sangat menarik bagi para peserta dari tiga negara,” ujar Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) di Makati, Filipina, Sidney Jones, kepada Tempo, pada Selasa, 10 September 2019.

    Menurut Sidney, selain Indonesia, Malaysia dan Filipina sedang mempertimbangkan untuk memulangkan warganya yang berada di Suriah. Karena, kata dia, tiga negara tersebut tidak mengetahui kondisi langsung di tempat pengungsian maupun jumlah setiap warga negaranya.

    Sidney menuturkan, wartawan Tempo Hussein Abri Dongoran, yang menemui pengungsi di tempat pengungsian al-Hawl dan bertemu dengan tahanan yang dijebloskan ke dalam penjara Derik, kawasan Al-Malikiyah, diundang sebagai salah satu pembicara dalam pertemuan tiga negara tersebut. “Itu bisa menjelaskan bagaimana cara masuk ke Rojava dan bertemu dengan pengungsi serta tahanan,” ujarnya.

    Rojava merupakan istilah wilayah Suriah Bagian Utara. Daerah yang tidak mengakui pemerintahan Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad itu dikuasai oleh Pasukan Kurdistan Suriah (SDF).

    Dalam paparan, Hussein Abri Dongoran, menjelaskan bagaimana rumitnya untuk mendapatkan akses ke tempat pengungsian maupun bertemu dengan tahanan asal Indonesia. “Hampir satu bulan untuk mendapatkan jalan ke ‘jantung’nya ISIS ini,” ujar Hussein.

    Hussein juga memutarkan sejumlah video yang berisi mengenai perjalanan di Suriah, kondisi pengungsi, maupun wawancara dengan tahanan asal Surabaya, Indonesia, Ubaid Mustofa Mahdi. “Ini pengalaman yang tidak bisa terlupakan seumur hidup saya,” ujar Hussein.

    Hussein berada di kawasan Rojava selama delapan hari. Dalam laporan Tempo, menyebutkan setidaknya ada 200 warga negara Indonesia yang berada di tempat pengungsian Al-Hawl. Para pengungsi itu merupakan perempuan dan anak-anak.

    Sedangkan, para pria yang pernah bergabung dengan ISIS dijebloskan ke penjara oleh SDF. Baik pengungsi maupun tahanan asal Indonesia tersebut ingin kembali ke tanah air. Namun, komunikasi pemerintah Indonesia dengan SDF pun terakhir kali terjadi pada 2017 lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.