Jokowi Mengaku Maraton Minta Masukan Pakar soal Revisi UU KPK

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi menyambut Pansel Capim KPK di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 2 September 2019. Penyerahan sepuluh nama ke presiden ini bakal menjadi tugas terakhir pansel. TEMPO/Subekti

    Presiden Jokowi menyambut Pansel Capim KPK di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 2 September 2019. Penyerahan sepuluh nama ke presiden ini bakal menjadi tugas terakhir pansel. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengaku sudah meminta masukan dari sejumlah pakar dan menteri terkait mengenai wacana revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi.

    "Sudah mulai sejak hari Senin, sudah kami maraton minta pendapat para pakar, kementerian, semuanya secara detail," kata Jokowi di JIEXPO, Jakarta, Rabu, 11 September 2019.

    Jokowi mengatakan, pendapat dari para ahli menjadi penting agar ia memiliki gambaran saat menerima naskah daftar inventaris masalah RUU KPK. Jokowi menyebut baru menerima DIM RUU KPK dan kini sedang mempelajarinya. Jika sudah mempelajari, ia berjanji akan mengirimkan Surat Presiden terkait revisi UU KPK. "Nanti kalau surpres kami kirim, besok saya sampaikan. Nanti materi-materi apa yang perlu direvisi," katanya.

    Menjelang habis masa jabatan periode 2014-2019 para anggota Dewan Perwakilan Rakyat menyepakati pembahasan revisi UU KPK atau Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

    Revisi tersebut mendapat suara sumbang dari masyarakat, para aktivis antikorupsi, hingga pimpinan KPK. Ketua KPK Agus Rahardjo, misalnya, mengatakan revisi UU KPK bakal melemahkan lembaganya. Ia menyebutkan ada sembilan poin perubahan yang bakal mempreteli fungsi KPK dalam pemberantasan korupsi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.