Selasa, 17 September 2019

Empat Menteri Ditugasi Bahas Revisi UU Perkawinan

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampilan Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diatas catwalk membawakan koleksi desainer Icha Liem dalam Fashion and Cultural Festival 2019 di Museum Bank Indonesia di Jakarta 03 Mei 2019 petang. Fashion and Cultural Festival 2019 merayakan Hari Kartini 21 April sekaligus Hari Pendidikan Nasional 2 Mei dimeriahkan peragaan busana oleh wanita inspirasional diantaranya Susi Pudjiastuti, Yohana Yembise, Rosmaya Hadi, Yenny Wahid serta duta besar wanita perwakilan negara negara sahabat. TEMPO/Nurdiansah

    Penampilan Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diatas catwalk membawakan koleksi desainer Icha Liem dalam Fashion and Cultural Festival 2019 di Museum Bank Indonesia di Jakarta 03 Mei 2019 petang. Fashion and Cultural Festival 2019 merayakan Hari Kartini 21 April sekaligus Hari Pendidikan Nasional 2 Mei dimeriahkan peragaan busana oleh wanita inspirasional diantaranya Susi Pudjiastuti, Yohana Yembise, Rosmaya Hadi, Yenny Wahid serta duta besar wanita perwakilan negara negara sahabat. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengatakan Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Surat Presiden untuk menugaskan empat menteri membahas perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bersama DPR.

    "Surat Presiden terbit Jumat (6/9) lalu sehingga mendorong Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk menyampaikan kepada DPR agar segera mengesahkan perubahan Undang-Undang Perkawinan," kata Yohana dalam jumpa pers yang diadakan di Jakarta, Senin.

    Surat Presiden bernomor R-39/Pres/09/2019 tersebut menugaskan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk membahas perubahan Undang-Undang Perkawinan.

    Yohana mengatakan negara harus menjamin hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta terlindung dari kekerasan dan diskriminasi, termasuk terlindung dari praktik perkawinan anak.

    "Perkawinan anak merupakan pelanggaran hak anak sedangkan hak anak merupakan bagian dari hak asasi manusia," tuturnya.

    Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2017, satu dari empat anak perempuan menikah pada usia anak dan setiap tahun sekitar 340 ribu anak perempuan menikah di usia anak.

    Dilihat per provinsi di Indonesia, terdapat 23 provinsi yang memiliki angka perkawinan anak di atas 25 persen. 

    Dengan menggunakan metode yang berbeda, data BPS 2018 menunjukkan satu dari sembilan perempuan usia 20 tahun hingga 24 tahun menikah pada usia anak.

    "Terdapat 20 provinsi dengan angka perkawinan anak di atas 11 persen. Tertinggi di Sulawesi Barat, yaitu 19 persen dan terendah DKI Jakarta empat persen," katanya  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.