Bareskrim Koordinasi dengan KPK Usut Kasus Pieko Njoto Setiadi

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Komisaris Besar Helmi Santika di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan pada Rabu, 4 September 2019. TEMPO/Andita Rahma

    Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Komisaris Besar Helmi Santika di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan pada Rabu, 4 September 2019. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Komisaris Besar Helmi Santika memastikan akan berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penanganan kasus yang menjerat Pieko Njoto Setiadi.

    "Pasti kami akan koordinasi dengan KPK, saling mengisi apa informasi yang dibutuhkan oleh teman-teman KPK," kata Helmi di kantornya, Jakarta Selatan, pada Rabu, 4 September 2019.

    Pieko ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian dan KPK dalam dua kasus yang berbeda. Di kepolisian, ia merupakan tersangka kasus dugaan impor bawang putih ilegal. Sedangkan di KPK, Pieko adalah tersangka dugaan suap impor gula.

    Wakil Ketua KPK Laode Syarief mengatakan penetapan tersangka Pieko berawal dari operasi tangkap tangan di Jakarta. KPK mendapat informasi bahwa Direktur Utama PTPN III, Dolly Pulungan, ditengarai meminta uang kepada Pieko.

    Sementara di kepolisian, penyidik menduga PT Citra Gemini Mulia, perusahaan milik Pieko lainnya, ditengarai terlibat dalam distribusi bawang putih ilegal. Perkara ini berawal ketika polisi menemukan 300 ton bawang putih di sebuah gudang di kawasan Surabaya, Jawa Timur.

    Setelah ditelusuri izin impor bawang putih ini seharusnya milik PT Pertani sesuai yang tertera dalam dokumen perjanjian ekspor impor. Namun, pelaksanaan impor dilakukan oleh PT Citra Gemini Mulia.

    ANDITA RAHMA | M. ROSSENO AJI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.