Selasa, 17 September 2019

Kontekstualisasi Wawasan Kebangsaan di Kalangan Generasi Muda

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, di hadapan hampir 5000 mahasiswa baru Universitas Islam Malang di Unisma Malang Jawa Timur, Minggu, 1 September 2019.

    Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, di hadapan hampir 5000 mahasiswa baru Universitas Islam Malang di Unisma Malang Jawa Timur, Minggu, 1 September 2019.

    INFO NASIONAL — Di hadapan hampir 5.000 mahasiswa baru Universitas Islam Malang (Unisma), Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, menekankan pentingnya kontekstualisasi wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda. Hal ini sebagai upaya merespons tantangan zaman yang berubah dengan cepat.

    "Tantangan bangsa mengalami perubahan. Perang terkini adalah menggunakan model soft power. Cuci otak dengan memanfaatkan lembaga pendidikan, lembaga keagamaan hingga teknologi informasi," kata Basarah di Unisma Malang Jawa Timur, Minggu, 1 September 2019.

    Basarah menegaskan bahwa di dunia maya bisa dengan mudah ditemukan propaganda nilai-nilai dan budaya asing. Mulai dari ekstrimisme agama, paham kebebasan, informasi palsu (hoaks) hingga ujaran kebencian bisa dengan mudah ditemukan di Internet. Sebagai pengguna Internet dan media sosial, tentu saja generasi muda menjadi sangat rentan dan mudah terpapar dengan berbagai propaganda tersebut. 

    “Tidak jarang generasi muda menelan mentah-mentah informasi tersebut dan turut menyebarkannya tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi," ujar Basarah yang juga dosen Pasca Sarjana Unisma.

    "Nah bagaimana kita menggunakan Internet untuk memperkuat wawasan kebangsaan kita? Ini menjadi tantangan kita bersama sebagai sebuah bangsa," ujar Basarah.

    Terhadap fenomena tersebut, Perguruan Tinggi menurut Basarah memiliki andil penting dalam membentuk nation and character lewat wawasan kebangsaan. Hal ini bisa dimulai dengan menyiapkan tenaga pendidik yang berkarakter Pancasilais. Pengetahuan yang disampaikan tenaga pendidik akan membentuk pola pikir. Pola pikir akan membentuk keyakinan dan perilaku. Perilaku yang diulang terus akan menjadi karakter.

    Kedua adalah optimalisasi Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 55 Tahun 2018 tentang Pembinaan Ideologi Pancasila dalam Kegiatan Mahasiswa di Perguruan Tinggi.

    "Diperlukan dukungan dan peran pemerintah untuk memanfaatkan kerja sama dengan organisasi kemahasiswaan, seperti ekstra universitas Kelompok Cipayung untuk terlibat membumikan Pancasila di setiap kampus," ujar Basarah.

    Basarah juga mengapresiasi kiprah Unisma dalam lanskap pendidikan nasional. Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (NU) terbesar di Indonesia dinilai mampu memadukan nilai-nilai Islam moderat dengan semangat toleransi dan kebhinekaan.

    "Harapan kita, semoga Unisma terus istikamah menebar Islam damai, mempropagandakan Islam wasathiyyah atau moderat dengan membawa semangat toleransi dan kebhinekaan," kata Basarah. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.