Kritik Para Tokoh untuk Capim KPK dan Pansel

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Pansel Capim KPK periode 2019-2023 saat mengumumkan hasil tes psikologi capim, di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Senin, 5 Agustus 2019. Tempo/Egi Adyatama

    Tim Pansel Capim KPK periode 2019-2023 saat mengumumkan hasil tes psikologi capim, di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Senin, 5 Agustus 2019. Tempo/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi atau pansel capim KPK akan menyerahkan 10 nama calon pimpinan lembaga antikorupsi itu kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada hari ini, Senin, 2 September 2019.

    "Hari Senin jam 3 sore, rencananya kami diterima Presiden untuk menyerahkan 10 nama Capim KPK tersebut," kata Ketua Pansel Capim KPK Yenti Garnasih, di Gedung III Setneg, Jakarta, Kamis, 29 Agustus 2019.

    Koalisi Masyarakat Sipil Darurat Komisi Pemberantasan Korupsi meminta Presiden Jokowi menyaring ulang 10 calon pimpinan pilihan panitia seleksi. Koalisi menilai ada indikasi kuat pelemahan KPK dalam proses seleksi kali ini.

    Kinerja Pansel Capim KPK hingga para peserta seleksi memang menjadi sorotan. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat antikorupsi dan tokoh masyarakat menyoroti sejumlah calon pimpinan yang dinilai mempunyai rekam jejak buruk namun lolos hingga tahap wawancara dan uji publik.

    Proses seleksi Capim KPK pun menjadi pembahasan. Dugaan pansel tidak independen dan berupaya meloloskan calon tertentu mencuat. Berikut kritik para tokoh terhadap seleksi Capim KPK:

    1. Abraham Samad

    Bekas Ketua KPK Abraham Samad menyebut proses seleksi wawancara dan uji publik Capim KPK kurang menggigit. "Seharusnya kan digali lebih dalam tentang sosok seseorang dari laporan-laporan yang masuk kepada pansel," ujarnya kepada Tempo pada Selasa malam, 27 Agustus 2019.

    Samad berpendapat, kalau ada laporan salah satu calon bermasalah secara eti kdan moral, maka Pansel harus tidak meloloskannya. Meski, kata dia, calon tersebut tidak bermasalah secara hukum.

    2. Bambang Widjojanto

    Eks Wakil Ketua KPK ini menilai pansel tidak fair dalam proses seleksi. "Yang saya dengar, ketika pertanyaan diajukan oleh panitia seleksi itu sudah ada favoritisme tertentu terhadap nama-nama tertentu, yang akan lolos atau tidak lolos," kata dia di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu, 28 Agustus 2019.

    3. Syafii Maarif

    Cendekiawan Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii mengingatkan, Capim KPK haruslah orang yang bersih dan tak bermasalah baik secara hukum maupun etik.

    "Orang yang bermasalah, yang ada titik-titik hitam, ya jangan dipilih lah, jangan dipilih. Orang baik masih ada di Republik ini walau jumlahnya enggak banyak," ucapnya dalam Dialog Kanal KPK di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019.

    Menurut Buya Syafii, orang baik yang harus dipilih memimpin lembaga. Namun, hal ini ditengarai masih sulit terjadi lantaran kultur politik Indonesia yang belum tentu memilih orang baik karena ada kepentingan tertentu yang diutamakan. 

    4. Sinta Nuriyah Wahid

    Istri Presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahih, Sinta Nuriyah Wahid berharap Presiden Jokowi mau mendengarkan suara masyarakat, sebab beberapa Capim KPK pilihan Pansel dianggap tidak memenuhi kriteria dan punya sejumlah catatan merah.

    "Sayangnya ada beberapa calon pimpinan yang tidak memenuhi kriteria tersebut tetapi diloloskan oleh pansel. Padahal KPK ujung tombak upaya pemberantasan korupsi. Maka harus diupayakan dipimpin oleh orang-orang yang cakap dan berintegritas," ujar Sinta dalam Dialog Kanal KPK di Jakarta pada Rabu, 28 Agustus 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.