Redam Rusuh di Papua, 2 Anak Gus Dur Sarankan Pendekatan Kultural

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi pertokoan yang terbakar di Jayapura, Papua, Sabtu, 31 Agustus 2019. ANTARA/Zabur

    Kondisi pertokoan yang terbakar di Jayapura, Papua, Sabtu, 31 Agustus 2019. ANTARA/Zabur

    TEMPO.CO, Jakarta - Putri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau yang akrab disapa Yenny Wahid mengatakan, pemerintah harus mengedepankan pendekatan kemanusiaan untuk menangani konflik di Papua.

    "Dalam menangani masalah Papua ini yang harus menggunakan pendekatan kemanusiaan, tidak bisa menggunakan pendekatan keamanan," kata Yenny kepada Tempo, Ahad malam, 1 September 2019.

    Menurut Yenny, pendekatan keamanan boleh saja dilakukan demi memulihkan situasi dan kondisi, serta mencegah agar konflik tidak melebar. Pendekatan keamanan juga dinilai perlu untuk mencegah tindakan anarkis dan menjaga obyek vital milik pemerintah dan rakyat.

    Hanya saja, Yenny mengatakan pengamanan itu harus dibarengi dengan pendekatan humanis dari pemerintah. "Jangan semuanya dipukul rata," kata dia.

    Hal senada disampaikan adiknya, Alissa Qotrunnada alias Alissa Wahid. Dihubungi terpisah, Alissa berpendapat pemerintah perlu langkah cermat untuk menangani masalah Papua, dimulai dengan cara pandang yang lebih selaras dengan kondisi saat ini.

    "Dalam kondisi tegang dan rentan ricuh, pemerintah perlu menggunakan kacamata perdamaian, bukan kekerasan dan keamanan," kata Alissa kepada Tempo, Ahad malam, 1 September 2019.

    Alissa menyarankan agar pemerintah menggunakan pendekatan kultural untuk meredakan ketegangan. Yakni dengan membangun kanal-kanal komunikasi dengan tokoh-tokoh Papua yang benar-benar berpengaruh.

    "Dalam resolusi konflik, ini tahap gencatan senjata. Setelah itu baru dialog untuk mencari titik temu," kata Alissa.

    Papua dan Papua Barat bergolak sejak sekitar dua pekan lalu. Serentetan aksi massa digelar di berbagai daerah. Demonstrasi tersebut bermula dari insiden rasisme dan diskriminatif terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?