Dua Mahasiswa Papua Disangka Lakukan Pidana Makar

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri, Kombes Pol Djoko Purwanto (kanan) bersama Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo memberikan penjelasan saat konferensi pers terkait tindak pidana korupsi dalam pengadaan BBM jenis HSD (High Speed Diesel) oleh PT PLN TA 2010 di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat, 28 Juni 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri, Kombes Pol Djoko Purwanto (kanan) bersama Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo memberikan penjelasan saat konferensi pers terkait tindak pidana korupsi dalam pengadaan BBM jenis HSD (High Speed Diesel) oleh PT PLN TA 2010 di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat, 28 Juni 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian menangkap dua mahasiswa Papua pelaku kasus pengibaran bendera bintang kejora di depan Istana Negara. Kedua pelaku itu adalah Anes Tabuni dan Charles Kossay.

    "Kedua pelaku ditangkap karena diduga melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan atau permufakatan akan melakukan kejahatan terhadap keamanan negara dan makar," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo melalui keterangan tertulis, Sabtu, 31 Agustus 2019.

    Dari penangkapan tersebut, polisi menyita dua unit ponsel milik Charles dan Anes, satu spanduk, satu kaos bergambar bintang kejora, satu selendang bergambar bintang kejora, dan satu toa.

    Dedi mengatakan, kedua pelaku saat ini masih menjalani pemeriksaan di Mako Brimob. "Kami periksa di sana karena pertimbangan keamanan," ucap dia. Kemudian, langkah selanjutnya, polisi akan melakukan pemeriksaan digital forensik ponsel milik Anes dan Charles.

    Sebelumnya, puluhan mahasiswa Papua mengibarkan bendera bintang kejora saat berunjuk rasa menuntut referendum di depan Istana Merdeka, Jakarta, pada 28 Agustus 2019. Mereka jug meminta Presiden Joko Widodo agar menemui massa.

    Dalam pernyataan resminya, massa menolak perpanjang Otonomi Khusus di Papua. Mereka meminta pemerintah Indonesia memberikan hak bagi Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.