Capim KPK, Bambang Widjojanto: Ada Desain Loloskan Orang Tertentu

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Kuasa Hukum BPN Prabowo - Sandi,  Bambang Widjojanto saat sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) sengketa Pilpres 2019 dengan agenda pembacaan putusan di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk menolak seluruh dalil yang diajukan oleh kuasa hukum BPN Prabowo - Sandi terkait sengketa Pilpres 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Ekspresi Kuasa Hukum BPN Prabowo - Sandi, Bambang Widjojanto saat sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) sengketa Pilpres 2019 dengan agenda pembacaan putusan di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk menolak seluruh dalil yang diajukan oleh kuasa hukum BPN Prabowo - Sandi terkait sengketa Pilpres 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Eks Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyebut adanya favoritisme dari anggota Panitia Seleksi terhadap kandidat calon pimpinan atau capim KPK. Informasi Bambang itu berasal dari pembicaraannya dengan internal KPK.

    "Yang saya dengar dari percakapan saya dengan teman-teman di dalam KPK, ketika pertanyaan diajukan oleh panitia seleksi itu sudah ada favoritisme tertentu terhadap nama-nama tertentu, yang akan lolos atau tidak lolos," ujar Bambang di PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu, 28 Agustus 2019.

    Bambang menuturkan, jika informasi tersebut benar, maka dugaan adanya desain untuk formasi pimpinan KPK semakin menguat. Dia menyebut adanya desain yang ingin meloloskan orang tertentu menjadi pimpinan KPK.

    Lebih lanjut, Bambang juga menyinggung isu yang muncul dalam proses rekam jejak capim KPK. Isu tersebut di antaranya, gratifikasi, pelanggaran etik, dan bahkan ada obstruction of justice atau menghalangi proses penindakan KPK.

    "Ketika itu disampaikan, terus hanya dijawab ada indikasi, Pansel ini kan enggak paham, antara alat bukti atau indikasi, kok bisa menjadi anggota pansel," ujar Bambang.

    Semua komunikasi dan informasi untuk menelusuri rekam jejak capim KPK telah disediakan. Kendati demikian, kata Bambang, Pansel juga tidak mempunyai alat yang mampu melacak rekam jejak dengan hanya menyediakan dua tenaga ahli untuk menguji.

    "Rekam jejak tak mungkin bisa diuji oleh dua tenaga ahli," kata dia. Alhasil, tudingan Bambang ihwal upaya pembusukan KPK melalui kandidat calon pimpinan KPK yang diloloskan semakin kuat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.