Kisah Masa Kecil Polisi Terbakar di Cianjur

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana rumah duka  Inspektur Dua Erwin Yudha Wildani, di Jalan Mayor Harun Kabir Gang Pulo 6 Kelurahan Bojongherang Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin 26 Agustus 2019. Erwin meninggal dunia setelah 11 hari dirawat di RSPP Jakarta karena menderita luka bakar. TEMPO/Deden Abdul Aziz

    Suasana rumah duka Inspektur Dua Erwin Yudha Wildani, di Jalan Mayor Harun Kabir Gang Pulo 6 Kelurahan Bojongherang Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin 26 Agustus 2019. Erwin meninggal dunia setelah 11 hari dirawat di RSPP Jakarta karena menderita luka bakar. TEMPO/Deden Abdul Aziz

    TEMPO.CO, Cianjur - Inspektur Dua atau Ipda Erwin Yudha Wildani, polisi terbakar di Cianjur, akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikaret, Cianjur. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Rudy Sufahriadi akan memimpin pemakaman ini.  

    Suasana duka menyelimuti rumah Sadiah, 70 tahun, orang tua Ipda Erwin, di Jalan Mayor Harun Kabir Gang Pulo 6, Kelurahan Bojongherang, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. 

    Sadiah tampak duduk di kursi kecil tengah rumah dan menerima satu per satu kerabat dan tamu yang datang menyampaikan belasungkawa. "Anak saya itu cita-citanya sejak kecil ingin jadi polisi," ujar Sadiah, Senin, 26 Agustus 2019.

    Air mata tak henti mengalir dari pipi ibu yang mengenakan kerudung cokelat ini. Ia duduk sambil memegang foto angkatan anaknya saat lulus dari kepolisian tahun 1993-1994.

    Erwin, anak ketiga dari 5 bersaudara yang merupakan personel Kepolisian Resor Polres Cianjur itu terbakar saat mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Komplek Pemerintah Kabupaten Cianjur, Kamis 15 Agustus 2019 lalu. Ia meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kepolisian Menetapkan Empat Perusahaan Tersangka Kasus Karhutla

    Kepolisian sudah menetapkan 185 orang dan empat perusahaan sebagai tersangka karena diduga terlibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.