Selasa, 24 September 2019

Tuntutan Pembubaran Banser NU, Ketua Ansor Surabaya Menjawab

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (kiri) memeriksa Barisan Banser NU dalam Apel Kebangsaan dan Kemah Kemanusiaan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, 18 April 2017. Belum ada informasi soal ikut-tidaknya pasukan Banser membantu pengamanan Pilkada DKI. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (kiri) memeriksa Barisan Banser NU dalam Apel Kebangsaan dan Kemah Kemanusiaan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, 18 April 2017. Belum ada informasi soal ikut-tidaknya pasukan Banser membantu pengamanan Pilkada DKI. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Ansor Cabang Surabaya Faridz Afif menyanggah keikutsertaan Banser NU dalam aksi diskriminasi dan rasisme yang terjadi di asrama mahasiswa Papua, di Jalan Kalasan, Surabaya, pada 16 dan 17 Agustus 2019.

    "Itu bertentangan dengan prinsip dan ajaran kami sebagai santrinya Gus Dur," kata Faridz dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 25 Agustus 2019.

    Dia menerangkan, Gus Dur mengajarkan Ansor dan Banser NU untuk selalu melakukan pendekatan kemanusiaan dalam menyelesaikan konflik apapun.

    Justru Gus Faridz, sapaan akrabnya, mengatakan Banser NU berhasil berkomunikasi dengan mahasiswa Papua pasca insiden itu pecah. Saat ini Banser NU menyebut penghuni asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan sebagai pasukan Gus Dur dan Banser ikut menjaga asrama tersebut.

    Menurut dia, mahasiswa dan warga Papua adalah saudara sebangsa dan setanah air. "Siapapun yang menganggu mereka, berarti mengganggu kita. Siapapun yang menyakiti mereka, berarti menyakiti kita."

    Pasca insiden di Surabaya kerusuhan pecah di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat. Berawal dari Manokwari, merambat hingga Fakfak, bahkan Jayapura. Sejumlah tokoh nasional pun telah datang ke tanah Papua untuk meredam suasana yang memanas.

    Anggota Dewan Perwakilan Daerah terpilih asal Papua, Yorrys Raweyai, datang ke Sorong terkait insiden ini. Di sana ia menerima aspirasi masyarakat dalam tujuh poin. Pada poin ketiga, masyarakat di Sorong  meminta pemerintah membubarkan Banser NU.

    Masyarakat Sorong tak menerangkan mengapa Banser NU harus dibubarkan. Yorrys Raweyai menegaskan usulan itu bukan dari dirinya melainkan dari masyarakat Sorong.

    "Tolong digaris bawahi dan dipahami dengan baik, bahwa statement itu bukan dari saya, dan saya tidak pernah menyatakan hal tersebut," kata Yorrys.

    EGI ADYATAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Chip Smart SIM Catat Data Forensik dan Pelanggaran Lalu Lintas

    Berbeda dari kartu SIM sebelumnya, Smart SIM memiliki tampilan baru dan sejumlah fitur tambahan. Termasuk menjadi dompet elektronik.