Yorrys Raweyai: Kerusuhan di Papua Akumulasi Kekecewaan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Politikus Partai Golkar Yorrys Raweyai saat menghadiri pertemuan antara partai politik pendukung Ahok-Djarot, di Hotel Novotel, Jalan Gadjah, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Maret 2017. Tempo/Egi Adyatama

    Politikus Partai Golkar Yorrys Raweyai saat menghadiri pertemuan antara partai politik pendukung Ahok-Djarot, di Hotel Novotel, Jalan Gadjah, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Maret 2017. Tempo/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Perwakilan Daerah terpilih asal Papua, Yorrys Raweyai, mengatakan kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, merupakan akumulasi kekecewaan yang membuat semangat kolektif.

    "Kejadian terakhir 15, 16, 17 Agustus kemudian diviralkan begitu masif seluruh warga Papua melalui medsos, kemudian dengan akumulasi kekecewaan akhirnya membuat semangat kolektif untuk bangkit dan menyampaikan aspirasi," kata Yorrys dalam diskusi Populi Center dan Smart FM di Jakarta, Sabtu, 24 Agustus 2019.

    Yorrys mengatakan bahwa masalah di Papua merupakan akibat dari satu sebab yang sudah berkepanjangan sejak berintegrasi dengan Negara Kesaturan RI. Gejolak itu muncul sejak 1965 di Kota Manokwari. "Jadi masalah ini bukan masalah baru," kata dia.

    Yorrys mengaku baru mengunjungi Papua bersama Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto serta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian.

    Setelah menemui tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat, Yorrys  mendapati tuntutan mereka sebetulnya adalah pihak kepolisian secara transparan mengungkap aktor diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya.

    "Tinggal kita serahkan ke kepolisian. Karena satu hari ikut rombongan Menko Polhukam, Kapolri, Panglima, tuntutan cuma satu, transparan secepatnya," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.